Gapki Ramal Minyak Sawit Bisa Tembus US$ 1.300 per Ton Imbas Perang dan B50
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau Gapki memprediksi harga minyak sawit mentah atau CPO bisa lebih cepat menembus US$ 1.300 per ton karena program biodiesel plus perang Iran-AS. Saat ini, harga CPO telah menembus US$ 1.150 per ton atau sekitar US$ 80 lebih mahal dibandingkan awal Maret.
Pemerintah berencana melanjutkan program biodiesel dari B40 ke B50. Dengan program tersebut, produsen solar wajib mencampurkan 50% produknya dengan produk turunan minyak sawit yaitu Fatty Acid Methyl Ester atau FAME. Sedangkan harga CPO meroket sepanjang Maret ini karena Perang Timur Tengah.
"Prediksi harga US$ 1.300 per ton akan dilampaui lebih cepat kalau perang di Timur Tengah ini tidak selesai-selesai," kata Ketua Umum Gapki Eddy Martono kepada Katadata.co.id, Kamis (12/3). Eddy memperkirakan, harga tersebut paling cepat tercapai di tengah tahun ini.
Lantas, bagaimana perhitungannya? Berdasarkan data Gapki, program B40 telah membuat konsumsi CPO oleh industri biodiesel naik 11 persen secara tahunan menjadi 12,7 juta ton pada tahun lalu. Di tengah kenaikan tersebut, konsumsi CPO oleh industri pangan tercatat susut 3,6 persen menjadi 9,83 juta ton.
Sedangkan Kementerian Pertanian memperkirakan program B50 akan menambah konsumsi CPO oleh industri biodiesel sebanyak 5,3 juta ton. Artinya, bila program B50 efektif berjalan pada Juli tahun ini, maka konsumsi CPO oleh industri biodiesel bisa menembus 15 juta ton pada tahun ini.
Pemerintah berencana memenuhi kebutuhan tersbeut dengan mengurangi alokasi untuk ekspor. Dengan demikian, harga CPO global akan semakin terkerek naik karena sekitar 60 persen pasokan CPO dunia berasal dari Indonesia.
Eddy mengatakan harga CPO akan lebih cepat menembus US$ 1.300 per ton jika konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak berhenti. Sebab, harga CPO global cenderung mengikuti fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Badan Pengelola Dana Perkebunan mencatat harga CPO global di pelabuhan Indonesia telah mencapai US$ 1.151 per ton pada Rabu (11/3) pekan lalu. Artinya, harga CPO global di pelabuhan lokal telah naik 7,54 persen atau lebih dari US$ 80 per ton sepanjang Maret.
Sejauh ini, kenaikan harga CPO masih lebih moderat dibandingkan harga minyak mentah yang naik 50 persen dalam periode sama. Penyebabnya, pasokan CPO masih terbilang aman saat 20 persen pasokan minyak mentah global terhalang perang di Timur Tengah.
"Konsumen minyak mentah ketakutan stok habis yang akhirnya membuat harga naik karena panic buying. Hal tersebut masih belum berlaku untuk CPO," kata dia.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan rencana mempercepat implementasi program B50. Tujuannya, untuk meningkatkan ketahanan energi di tengah ketidakpastian pasokan dan harga minyak mentah.
"Sudah barang tentu dengan kondisi yang ada, maka pemerintah berpikir untuk mencari alternatif terbaik dalam rangka menjaga pasokan energi nasional,” ujarnya.