Pemerintah Vietnam mempercepat pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir atau PLTN sebagai upaya meningkatkan pasokan listrik nasional, dengan menggandeng Rusia dalam pembangunan proyek nuklir Ninh Thuan 1.

Pemerintah Vietnam menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan energi nuklir Rusia, Rosatom. Keduanya menandatangani perjanjian antar-pemerintah terkait kerja sama pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir Ninh Thuan 1 di Vietnam. 

Melansir Reuters pada Senin (23/3), penandatanganan dilakukan saat kunjungan resmi Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh ke Moskow. Perjanjian itu ditandatangani oleh Direktur Jenderal Rosatom Alexei Likhachev dan Menteri Kepala sekaligus Kantor Pemerintah Vietnam Tran Van Son, disaksikan oleh Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin dan Perdana Menteri Vietnam.

Mishustin mengatakan pembangunan pembangkit listrik nuklir ini akan memperkuat kerja sama kedua negara, tidak hanya di sektor energi minyak gas, tetapi juga teknologi tinggi dan penelitian ilmiah.

Dalam proyek tersebut, akan dibangun dua unit reaktor nuklir berdesain Rusia dengan total kapasitas gabungan sekitar 2.400 megawatt (MW). Rosatom menyebut proyek ini akan menggunakan desain referensi dari pembangkit listrik nuklir Leningrad NPP-2 di Rusia.

Rosatom menilai proyek ini bukan sekadar pembangunan pembangkit listrik, tetapi juga menjadi dasar kerja sama industri jangka panjang antara Rusia dan Vietnam, serta memperkuat kemandirian energi Vietnam.

Kebutuhan Listrik Vietnam Meningkat

Vietnam membutuhkan pasokan listrik tambahan, karena dalam beberapa tahun terakhir negara tersebut sering mengalami pemadaman listrik besar. Hal ini terjadi karena permintaan listrik dari sektor industri dan pertumbuhan kelas menengah meningkat lebih cepat dibandingkan pasokan listrik.

Selain itu, cuaca ekstrem seperti kekeringan dan topan menekan produksi listrik, terutama dari pembangkit listrik tenaga udara.

Proyek nuklir ini menjadi bagian dari strategi Vietnam untuk meningkatkan kapasitas pembangkit listrik sekaligus menjaga keamanan energi nasional dan mendukung target emisi nol bersih (net zero).

Proyek pembangkit listrik nuklir di Provinsi Ninh Thuan sebenarnya sudah dimulai sejak awal 2010-an. Namun pada 2016, pemerintah Vietnam menghentikan program nuklirnya karena alasan anggaran dan keselamatan, sebagaimana dilansir dari World Nuclear News, Senin (23/3).

Pada 2024, Vietnam kembali menghidupkan program energi nuklir dan meminta Rusia serta Jepang untuk mengembangkan proyek tersebut. Namun Jepang kemudian memutuskan mundur dari rencana pembangunan pembangkit listrik nuklir di Vietnam pada Desember tahun lalu.

Parlemen Vietnam akhirnya menyetujui rencana untuk melanjutkan proyek nuklir Ninh Thuan pada November 2024, dengan target pembangunan dua pembangkit listrik tenaga nuklir di provinsi tersebut selesai pada 2030.

Proyek Ninh Thuan sendiri terdiri dari dua pembangkit, yakni Ninh Thuan 1 dan Ninh Thuan 2, yang masing-masing akan memiliki dua reaktor nuklir.

Selain proyek pembangkit listrik, Rusia dan Vietnam telah bekerja sama dalam pengembangan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir di Vietnam, termasuk penelitian reaktor serta produksi isotop medis.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina