Menteri Rosan Optimis Realisasi Investasi Kuartal I Naik 7% Jadi Rp 497 Triliun

Katadata/Fauza Syahputra
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Perkasa Roeslani menyampaikan paparan realisasi investasi triwulan IV 2025 di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta, Kamis (15/1/2026). Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menyatakan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp 1.931,2 triliun atau naik 12,7% dari capaian 2024 senilai Rp 1.714.2 triliun.
13/4/2026, 14.38 WIB

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Roeslani, menargetkan realisasi investasi pada kuartal I 2026 dapat mencapai Rp 497 triliun. Angka itu diproyeksikan tumbuh sekitar 7% secara tahunan (year-on-year).

Rosan menjelaskan, target itu sejalan dengan rencana investasi nasional yang telah ditetapkan pemerintah. Mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2025 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026, total target realisasi investasi tahun ini dipatok sebesar Rp 2.041,3 triliun.

“Dengan perkembangan yang ada saat ini, kami optimistis target kuartal pertama sebesar Rp497 triliun dapat tercapai,” ujar Rosa dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (13/4)

Selain pertumbuhan investasi, peningkatan di sisi penyerapan tenaga kerja pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 627 ribu orang atau tumbuh 5% yoy.  Dari sisi sumber investasi, Rosan menyebutkan bahwa penanaman modal asing (PMA) masih menjadi kontributor signifikan, dengan porsi sekitar 30% dari total investasi yang masuk ke Indonesia. 

Sejumlah negara masih mendominasi aliran investasi tersebut, di antaranya Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat.

Di tengah dinamika global yang dipenuhi tantangan geopolitik dan geoekonomi, ia menyatakan tetap ada peluang bagi Indonesia.  Rosan menilai posisi Indonesia yang menganut kebijakan politik luar negeri terbuka dan non-blok menjadi nilai tambah dalam menarik investor global.

“Indonesia diterima oleh semua negara, sehingga peluang kerja sama dan investasi tetap terbuka lebar,” kata Rosan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina