PHK Hantui Industri Manufaktur, Purbaya Sebut Selalu Ada Perusahaan Jatuh Bangun

ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/YU
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (tengah) didampingi Wakil Menteri Keuangan Juda Agung (kanan) dan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kiri) menyampaikan paparan saat konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Penulis: Ade Rosman
6/5/2026, 18.01 WIB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi ancaman gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang menghantui lima sektor industri manufaktur dalam tiga bulan ke depan. Menurutnya masalah perusahaan yang jatuh-bangun akan selalu ada.  

“Saya akan pelajari. Saya akan dorong lagi pertumbuhan ekonomi ke tingkat yang lebih cepat, tapi kalau masalah perusahaan jatuh-bangun, selalu ada. Yang saya akan lihat adalah dampak net-nya seperti apa,” kata Purbaya di kawasan Jakarta Pusat, Rabu (6/5).

Di sisi lain, Purbaya mengatakan terdapat perusahaan lain yang bangkit, di luar kondisi ancaman yang menghantui lima sektor industri manufaktur tersebut. 

“Lima jatuh, ada yang bangkit enggak? Anda kan enggak melihat perusahaan yang baru, tahu enggak jumlahnya berapa? Jadi, kita harus lihat itu untuk lebih balance-nya,” kata dia. 

Purbaya mengatakan, jika pertumbuhan ekonomi menyentuh angka 5% maka akan memunculkan perusahaan baru dan penciptaan lapangan kerja baru. 

“Tapi, saya perhatikan apakah itu berjalan atau enggak, tapi kan yang saya pastikan adalah stimulus di ekonomi cukup, likuiditas ekonomi cukup, dorongan pemerintah ke perekonomian cukup, dan kita perbaiki terus kondisi bisnis di sini,” kata Purbaya.

Purbaya Upayakan Likuiditas untuk Industri Tekstil 

Purbaya menyebut, di industri tekstil, ia tengah mengevaluasi mengapa tidak bisa menembus pasar internasional. Salah satu penyebabnya karena industri tekstil dianggap sebagai sunset industry. 

“Dia susah sekali dapat pinjaman ke bank, makanya saya tadi pakai LPEI, kita sudah ketemu dengan perusahaan tekstil atau asosiasi itu, dan kita akan menjalankan dalam waktu enggak terlalu lama,” kata Purbaya. 

Purbaya mengatakan, ancaman badai PHK ini tidak mengganggu kondisi perekonomian pada kuartal II 2026. 

“Secara agregat, masih bagus. Kalau satu perusahaannya, saya gak tahu, saya liat case by case. Tapi kalau secara agregat, masih bagus. Artinya kalau itu yang jatuh, maksudnya ada tempatan yang tumbuh,” kata dia.

Sebelumnya, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memperingatkan potensi gelombang PHK yang menghantui lima industri manufaktur dalam tiga bulan ke depan. KSPI menyebut sektor yang paling rawan terdampak adalah industri tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga poliester. Badai PHK juga menghantui industri plastik. Industri-industri tersebut bergantung pada pasar dan bahan baku yang sensitif terhadap gejolak global. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman