PMI Manufaktur Juni Melemah ke 46,9, APINDO Ungkap Penyebab Industri Tertekan

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/wsj.
Penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 ke level 46,9 menjadi sinyal pelemahan sektor industri yang perlu mendapat perhatian serius.
Penulis: Kamila Meilina
1/7/2026, 12.20 WIB

Penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Juni 2026 ke level 46,9 menjadi sinyal pelemahan sektor industri yang perlu mendapat perhatian serius. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai kontraksi tersebut menunjukkan tekanan terhadap manufaktur kembali meningkat setelah sempat berada di level netral pada Mei 2026.

Laporan S&P Global mencatat penurunan PMI Manufaktur Juni mencerminkan melemahnya kondisi operasional sektor produksi barang. Kontraksi ini menjadi salah satu penurunan terbesar dalam satu tahun terakhir, dengan tekanan utama berasal dari melemahnya permintaan baru dan penurunan aktivitas produksi.

Ketua Umum APINDO Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, PMI Manufaktur yang sebelumnya berada di level 50,0 pada Mei atau batas antara ekspansi dan kontraksi, kini turun cukup tajam.

“Penurunan PMI Juni ini menunjukkan tekanan terhadap sektor manufaktur masih cukup besar, baik dari sisi permintaan, produksi, biaya, maupun keputusan operasional perusahaan,” ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Rabu (1/7).

Terdapat sejumlah faktor utama yang menekan kinerja industri manufaktur. Salah satunya adalah pelemahan permintaan, baik dari pasar domestik maupun ekspor.

Indikasi Daya Beli dan Permintaan Melemah

Berdasarkan laporan PMI Juni, pesanan baru tercatat turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir dengan laju tercepat dalam satu tahun.

“Ini mengindikasikan bahwa daya beli dan permintaan pasar sedang melemah, terutama di tengah kenaikan harga,” kata Shinta. 

Pada saat yang sama, tekanan eksternal masih kuat akibat ketidakpastian global, perlambatan sejumlah pasar utama, serta tensi geopolitik yang berdampak terhadap perdagangan dan rantai pasok.

Selain permintaan, Shinta menyebut tekanan biaya produksi menjadi faktor lain yang membebani industri. Kenaikan harga bahan baku, energi, gangguan rantai pasok, hingga volatilitas nilai tukar rupiah membuat biaya produksi manufaktur meningkat.

Menurutnya, kondisi ini semakin berat karena industri nasional masih bergantung pada bahan baku dan barang antara impor.

“Ketika rupiah melemah dan harga input global meningkat, biaya produksi industri manufaktur ikut terdorong naik,” katanya.

Industri Mulai Tahan Produksi dan Ekspansi

Shinta mengatakan meningkatnya ketidakpastian usaha juga membuat pelaku industri lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan bisnis, mulai dari produksi, pembelian bahan baku, ekspansi, hingga perekrutan tenaga kerja.

Hal itu tercermin dari penurunan pembelian input dan penyesuaian tenaga kerja yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

“Kontraksi ini tidak hanya terlihat di level angka indeks, tetapi mulai tercermin dalam keputusan operasional perusahaan,” ujarnya.

Di lapangan, pelaku industri kini lebih banyak melakukan penyesuaian untuk menjaga keberlangsungan usaha. Perusahaan mulai menyesuaikan tingkat produksi dengan permintaan, mengurangi pembelian bahan baku, mengelola persediaan secara hati-hati, serta menunda ekspansi yang belum mendesak.

Sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, energi, dan pasar ekspor disebut menjadi kelompok yang paling terdampak. Sementara sektor dengan basis konsumsi domestik dan kandungan lokal lebih tinggi relatif lebih mampu bertahan.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina