PMI Manufaktur Indonesia Kembali Masuk Zona Ekspansi, Apa Faktor Pendorongnya?
Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026, dibanding bulan sebelumnya 46,9. Angka tersebut menceminkan industri di Indonesia brada dalam fase ekspansi,
S&P Global mencatat pesanan baru mulai pulih pada Juli setelah sempat melemah pada bulan sebelumnya, didorong oleh meningkatnya kepercayaan pelanggan dan masuknya proyek-proyek baru. Meningkatnya permintaan juga membuat perusahaan kembali merekrut tenaga kerja setelah empat bulan melakukan pengurangan karyawan.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan, perbaikan kondisi logistik global dan rantai pasok dinilai menjadi faktor utama yang akan menopang penguatan aktivitas manufaktur nasional sekaligus mendorong peningkatan ekspor. Momentum pemulihan ekonomi global memberikan sinyal positif bagi sektor manufaktur Indonesia.
Menurut dia, rantai pasok internasional yang mulai pulih serta logistik yang semakin lancar akan mendukung peningkatan aktivitas industri.
"Saya optimistis. Dengan kondisi global yang makin baik, rantai pasok membaik, logistik membaik, saya kira PMI pada Agustus maupun September dan seterusnya akan meningkat lagi," ujar Faisol ditemui di kantornya di Jakarta Selatan, Senin (3/8).
Pemerintah disebutnya terus mencermati perkembangan geopolitik dunia yang berpotensi memengaruhi perdagangan internasional. Ia menilai berbagai upaya diplomasi dan negosiasi yang dilakukan sejumlah negara untuk meredakan konflik dapat menciptakan kondisi ekonomi global yang lebih kondusif.
"Kalau perkembangan ini terus berlanjut, sangat membantu peningkatan produktivitas di dalam negeri, antara lain meningkatkan PMI dan ekspor kita," katanya.
Optimisme Kemenperin sejalan dengan membaiknya indikator aktivitas manufaktur Indonesia. Berdasarkan data S&P Global. Angka di atas 50 menandakan sektor manufaktur kembali memasuki fase ekspansi setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Di sisi lain, S&P mencatat tantangan masih ada karena harga bahan baku yang tinggi dan keterbatasan pasokan membuat pembelian bahan baku masih melemah. Permintaan ekspor juga belum pulih sepenuhnya.
Meski demikian, prospek industri manufaktur dinilai semakin positif. Pelaku usaha semakin optimistis terhadap kondisi dalam 12 bulan ke depan seiring harapan pertumbuhan penjualan, membaiknya kepercayaan pelanggan, dan meredanya tekanan harga.