Super El Nino Ganggu Energi RI, Smelter Pangkas Produksi hingga Distribusi BBM
Fenomena Super El Nino masih berlangsung di Indonesia. Selain berdampak pada produksi pangan di Indonesia, El Nino juga mengganggu produksi dan distribusi energi.
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dampaknya berbeda-beda di setiap kawasan.
Sejumlah wilayah Asia, termasuk Indonesia, Filipina, dan sebagian India, cenderung mengalami kondisi lebih kering akibat berkurangnya curah hujan. Sebaliknya, beberapa wilayah seperti bagian selatan Amerika Serikat dan Peru berpotensi mengalami curah hujan lebih tinggi.
El Niño 2026 diperkirakan memiliki intensitas yang sangat kuat, sehingga oleh sejumlah peneliti iklim dikategorikan sebagai “Super El Nino”, meski ini bersifat informal.
Dalam satu bulan terakhir, terdapat beberapa laporan yang menunjukkan terganggunya keberlangsungan kegiatan di sektor energi baik pertambangan, distribusi BBM hingga turunnya pasokan listrik energi bersih dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) akibat fenomena tersebut.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mendapatkan laporan ada beberapa lokasi proyek pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel yang mulai terdampak.
“(Pengaruhnya) berupa penurunan produksi (nikel) akibat El Nino tahun ini. Beberapa tempat sudah mulai merasakan dampak kekurangan pasokan air, akibat periode musim kering yang panjang ini,” kata Arif kepada Katadata, Kamis (24/9).
Persebaran smelter nikel di Indonesia sebagian besarnya berada di wilayah Sulawesi dan Maluku Utara. Menurut catatannya, daerah smelter yang paling terdampak kondisi ini berada di Sulawesi.
Arif tak menyebut berapa jumlah pasti smelter yang terdampak oleh kondisi tersebut, sebab hingga saat ini belum ada angka pasti yang masuk.
“Masing-masing proyek smelter mengalami dampak dan tingkatan yang berbeda-beda, tergantung lokasi, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan lain-lain,” ujarnya.
Penurunan Produksi Smelter
Salah satu smelter yang sudah memangkas produksinya terjadi pusat pengolahan nikel Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Pemangkasan ini disebabkan oleh kekeringan yang dipicu El Nino membuat pasokan air yang digunakan sebagai pendingin dan pelindung alat berkurang.
Menurut laporan Bloomberg, pemangkasan produksi di IMIP diumumkan kepada perusahaan-perusahaan yang berada dalam kawasan tersebut pekan lalu. Pemangkasan ini dilakukan untuk produksi nickel pig iron (NPI), yang merupakan bahan baku pembuatan baja anti karat.
Berdasarkan sumber Bloomberg, volume produksi yang terdampak kondisi tersebut bisa mencapai hampir sepertiganya atau sekitar 100 ribu ton NPI. Menurut Wood Mackenzie Ltd., kapasitas produksi IMIP mencapai 350 ribu ton per bulan dan 4,2 juta ton per tahun.
Arif menyatakan pasokan air merupakan bahan penunjang produksi yang sangat vital untuk industri nikel baik jenis pirometalurgi maupun hidrometalurgi.
Kebutuhan air pada jalur pirometalurgi berfokus untuk sistem pendinginan (cooling system), air dibutuhkan secara konstan untuk mendinginkan dinding furnace guna mencegah bahaya keretakan atau ledakan.
“Terak atau slag cair hasil peleburan yang sangat panas disemprot dengan air bertekanan tinggi agar langsung membeku dan pecah menjadi butiran kecil (granular) sehingga mudah diolah atau ditempatkan,” ucapnya.
Pada jalur pirometalurgi, air juga digunakan pada sistem scrubber untuk menangkap debu, partikel halus, dan gas dari cerobong asap sebelum dilepas ke lingkungan.
Sementara itu untuk jalur hidrometalurgi atau smelter berteknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL), peran air lebih besar sebab berfungsi sebagai media utama seluruh reaksi, baik untuk media pelarut & reaksi kimia, kemudian proses pencucian dan pemisahan logam, hingga proses pengenceran.
Penurunan Daya Mampu Listrik Sulawesi
Sulawesi tak hanya dihantam El Nino dari sisi pertambangan, namun juga soal pasokan listrik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan Sulawesi Selatan (Sulsel) mengalami masalah pasokan listrik yang disebabkan oleh surutnya air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).
“Di Sulsel itu kan kami memang memakai beberapa PLTA, akibat El Nino maka daya kekuatan air berkurang. Kami sudah mencari solusi untuk mengganti (pasokan) listrik sementara dengan (memanfaatkan) pembangkit lain,” kata Bahlil saat ditemui di Kompleks DPR RI, Rabu (16/9).
Masalah pasokan listrik ini ditandai dengan terjadinya penurunan daya mampu agregat pembangkit hidro (air) di wilayah Sulawesi Bagian Selatan (Sulbagsel). Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo menyebut daya mampu yang sebelumnya mencapai 850 megawatt (MW) turun 600 MW menjadi 250 MW saja.
Penurunan daya mampu produksi listrik ini terjadi pada Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso, Bakaru, Malea, serta sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM).
“Dalam beberapa waktu terakhir, sistem kelistrikan Sulbagsel menghadapi tekanan seiring menurunnya daya mampu sejumlah pembangkit hidro. Kondisi hidrologi yang dipengaruhi fenomena El Niño,” kata Darmawan dalam siaran pers, Selasa (15/9).
Untuk meningkatkan pasokan, PLN mempercepat perbaikan pembangkit, mengoptimalkan pembangkit yang tersedia dan menyiapkan tambahan kapasitas pembangkit hingga 627 MW.
Distribusi BBM dan Batu Bara
Nestapa ulah El Nino tak hanya melanda Sulawesi dan Maluku saja, serangan fenomena ini juga dirasakan di Kalimantan. Kementerian ESDM mengatakan pengiriman komoditas batu bara dan bahan bakar minyak (BBM) mengalami kendala imbas surutnya sungai di sana.
Padahal, sungai menjadi salah satu jalur distribusi yang digunakan untuk mengangkut komoditas energi di wilayah itu. Ada sejumlah tongkang atau kapal pengangkut bahan curah dan berat yang terpantau tidak bergerak.
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, memastikan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi sungai yang surut. “Itu (tidak bergerak) bukan karena produksi (batu bara) dibatasi, tetapi karena air sungai yang digunakan untuk mengangkut tongkang tidak ada,” kata Yuliot saat ditemui seusai Indonesia EBTKE Conference & Exhibition 2026 Jakarta, Rabu (2/9).
Dia menyebut pihaknya telah memeriksa kondisi sungai di Kalimantan Timur sebelumnya. “Sungainya mengering sehingga tongkangnya tidak bisa jalan,” ujarnya.
Tak hanya batu bara, Kementerian ESDM juga mengidentifikasi adanya kelangkaan BBM yang terjadi di Kalimantan disebabkan sungai yang surut. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi kapal distribusi energi.
“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, dikutip dari Antara, Rabu (2/9).
Kendati demikian, Laode menyampaikan permasalahan tersebut telah dimitigasi dengan memperbanyak truk-truk pengiriman BBM yang menggunakan jalur darat. Akan tetapi, volume angkut truk pengiriman BBM tidak sebesar angkutan sungai.
“Tetapi, ditambah volumenya agar bisa menutupi tantangan-tantangan antrean yang terjadi dikarenakan oleh cuaca,” ucapnya.