Peluang Hilirisasi Kelapa Indonesia Terbuka, Diversifikasi Produk Jadi Tantangan

ANTARA FOTO/Khalis Surry/Lmo/rwa.
Pedagang memilih buah kelapa muda untuk pembeli di kawasan Jalan Imam Bonjol, Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, Senin (27/3/2023). Menurut pedagang permintaan kelapa muda saat Ramadhan 1444 Hijriah naik mencapai 65 persen dibandingkan hari biasa sebanyak 150 buah per hari kini menjadi 400 buah per hari dengan harga jual Rp8.000 per buah.
5/10/2026, 12.15 WIB

Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah industri kelapa seiring dorongan pemerintah terhadap hilirisasi. Namun, pengembangan produk turunan kelapa tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku, tetapi juga kemampuan pengolahan dan pengemasan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Peluang tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam World Coconut Day 2026 yang berlangsung di Manado, Sulawesi Utara, pada 7-10 Oktober 2026. Acara yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara bersama International Coconut Community (ICC) ini diperkirakan mempertemukan lebih dari 700 peserta dari lebih dari 20 negara.

Mengusung tema “Coconuts in Times of Uncertainty: Securing Food, Energy, and Livelihoods”, forum tersebut membahas penguatan rantai nilai kelapa di tengah meningkatnya kebutuhan untuk menciptakan produk dengan nilai tambah lebih tinggi.

Indonesia saat ini memproduksi sekitar 2,1 juta ton kelapa per tahun. Pemerintah juga telah mengumumkan rencana pengembangan 151.554 hektare kawasan hilirisasi kelapa di 28 provinsi.

Sulawesi Utara menjadi salah satu lokasi penting dalam pengembangan industri kelapa karena merupakan salah satu sentra produksi kelapa nasional.

Di sisi pasar, peluang pengembangan produk kelapa juga semakin beragam. Minuman siap minum berbasis kelapa yang mengombinasikan air kelapa dengan kategori seperti teh, kopi, minuman energi, dan minuman olahraga mencatat pertumbuhan tahunan majemuk atau CAGR sebesar 42% pada 2022-2025.

Sementara itu, pasar air kelapa dan krim kelapa global masing-masing diproyeksikan mencapai €4,7 miliar dan €3,9 miliar pada 2029.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya ruang bagi produsen untuk tidak hanya mengandalkan produk kelapa tradisional, tetapi juga mengembangkan produk olahan yang menyasar segmen konsumen dan pasar yang lebih beragam.

Namun, pengolahan kelapa memiliki tantangan tersendiri. Produk berbahan dasar kelapa dapat mengalami perubahan kimia dan biokimia selama proses pengolahan. Air kelapa juga relatif sensitif terhadap paparan oksigen setelah kemasan dibuka sehingga pengendalian proses menjadi penting untuk mempertahankan kualitas, cita rasa, dan karakteristik gizi.

Processing Director, Malaysia, Singapore, Philippines & Indonesia (MSPI), Tetra Pak, Hemang Dholakia, mengatakan diversifikasi produk menjadi salah satu peluang yang dapat dikembangkan produsen kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara.

“Kami melihat peluang pertumbuhan yang kuat untuk produk kelapa di Indonesia dan Asia Tenggara, khususnya pada kategori air kelapa dan krim kelapa yang terus berkembang,” kata Hemang.

Menurut dia, pengolahan kelapa perlu didukung lini produksi yang fleksibel agar produsen dapat mengembangkan berbagai jenis produk dari bahan baku yang sama. Pengolahan tersebut juga dapat diarahkan untuk meningkatkan efisiensi serta mengurangi kehilangan bahan baku.

Selain pengolahan, pengemasan menjadi faktor penting dalam memperluas pasar produk kelapa, terutama untuk distribusi dan ekspor.

Data Tetra Pak menunjukkan kemasan karton mencakup 59% pasar air kelapa global. Perusahaan tersebut juga menyatakan telah memasok lebih dari 2 miliar kemasan untuk minuman kelapa dan air kelapa secara global pada 2025.

Kemasan aseptik memungkinkan sejumlah produk berbasis kelapa didistribusikan pada suhu ruang sehingga tidak selalu membutuhkan rantai dingin. Kondisi tersebut dapat memberikan alternatif bagi produsen dalam mengembangkan jaringan distribusi, termasuk untuk pasar ekspor.

Bagi industri kelapa Indonesia, pengembangan produk bernilai tambah menjadi semakin relevan seiring agenda hilirisasi pemerintah. Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi bahan baku dapat diikuti dengan kemampuan industri untuk mengolah, mengemas, dan memasarkan produk turunan kelapa secara kompetitif.

Dalam World Coconut Day 2026, Tetra Pak turut memperkenalkan teknologi pengolahan dan pengemasan untuk produk kelapa melalui Booth 11.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.