Pabrikan Mobil Listrik Didorong Penuhi TKDN 60% Lewat Produksi Baterai di RI

ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.
Seorang pekerja berdiri di dekat mobil listrik yang sedang dirakit di fasilitas produksi BYD di Subang, Jawa Barat, Kamis (3/9/2026).
13/10/2026, 14.40 WIB

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menilai target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 60% untuk mobil listrik dapat dicapai melalui produksi baterai di Indonesia. Langkah ini dinilai dapat membantu produsen kendaraan listrik memenuhi ketentuan TKDN tanpa harus memiliki pabrik baterai sendiri.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan, penggunaan baterai yang diproduksi di dalam negeri dapat membantu produsen mengejar target TKDN tersebut.

“Ketika mereka sudah merakit baterai secara penuh di Indonesia atau memproduksinya di Indonesia, sebenarnya TKDN 60% itu bisa dicapai. Jadi, mau punya pabrik atau tidak, sebenarnya bisa,” kata Setia ditemui di kantornya, Jakarta Selatan, Selasa (13/10). 

Menurut dia, terdapat produsen kendaraan yang masih merakit mobilnya di Indonesia, tetapi telah mengoptimalkan penggunaan baterai dari produsen dalam negeri. Skema itu dapat membantu meningkatkan kandungan lokal kendaraan listrik.

Setia mencontohkan, keberadaan pabrik baterai di Indonesia dapat dimanfaatkan oleh produsen kendaraan listrik untuk memenuhi kebutuhan komponen tersebut dari pemasok domestik.

Dengan demikian, produsen tidak harus membangun fasilitas produksi baterai sendiri untuk mengejar target TKDN. Mereka dapat memanfaatkan pasokan baterai yang telah diproduksi di dalam negeri.

“Gap TKDN 60% itu sudah bisa dikejar ketika semua baterai itu sudah dikerjakan di Indonesia,” ujarnya.

Ketentuan TKDN termaktub dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2023. Selama 2022-2026, target capaian TKDN sebanyak 40%, lalu meningkat 60% pada 2027-2029, serta minimum 80% pada 2030 dan seterusnya.

Ketua Tim Kerja Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Kemenperin, Patia Junjungan juga pernah menyatakan bahwa unsur baterai berperan penting untuk mengejar target pemenuhan TKDN yang terus meningkat.

“Yang menjadi topik krusialnya juga adalah baterai,” kata dia dalam diskusi Asosiasi Ekosistem Mobilitas Listrik (AEML) pada Januari lalu. 

Produksi baterai dalam negeri bisa memenuhi target TKDN hingga 50%, demikian ketika target meningkat menjadi 60%, produsen bisa mengombinasikan perakitan produk di dalam negeri beserta produksi baterainya. 

Dalam perhitungannya, TKDN bisa naik 10% jika perusahaan menggunakan baterai yang dikemas di Indonesia. Sementara produksi baterai berupa housing dan wiring harness dalam negeri akan meningkatkan TKDN sebesar 20%.

“Kemudian untuk mencapai 30% itu battery management system-nya diproduksi di dalam negeri. Untuk bisa mencapai 40% ini harus sel baterainya diproduksi dalam negeri,” ucap Patia.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina