Jokowi Bertemu Perdana Menteri Tiongkok Bahas Proyek Infrastruktur

ANTARA FOTO/Bayu Prasetyo
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok Xi Jinping (kiri) saat pertemuan bilateral disela-sela menghadiri KTT One Belt One Road di Gedung Great Hall of the People, Beijing, Minggu (14/5).
7/5/2018, 12.02 WIB

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pagi ini menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang. Pertemuan antara Jokowi dengan orang kedua Tiongkok tersebut akan digelar di Istana Kepresidenan Bogor.

Berdasarkan agenda Kepresidenan yang diterima Katadata.co.id dari Sekretariat Presiden, Li tiba di Istana Bogor pukul 10.10 Waktu Indonesia Barat. Setelah pengisian buku tamu, Jokowi dan dirinya akan menggelar sejumlah acara yang ditutup dengan makan siang bersama.

"Ada foto bersama, penanaman pohon, veranda talk, pertemuan bilateral, pernyataan pers bersama, hingga jamuan makan siang resmi," demikian keterangan Sekretariat Presiden, Senin (7/5).

Li juga telah tiba di area Istana Kepresidenan Bogor disertai dentuman meriam. Belum jelas topik apa yang akan dibicarakan keduanya dalam pertemuan bilateral. Nanti malam, Li akan datang dalam pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bisnis Indonesia - Tiongkok.

Menteri Luar Negeri Retno P. Marsudi juga mengatakan pada Februari lalu bahwa pertemuan Jokowi dan Li juga membahas masalah infrastruktur inisiatif Jalur Sutera. Dikutip dari Antara, satu proyek yang dibahas adalah kereta cepat Jakarta - Bandung.

Sedangkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan Indonesia bukan satu-satunya negara Asia yang dikunjungi Li. Setelahnya Li akan berangkat ke Jepang menerima undangan Perdana Menteri Shinzo Abe. "Tanggal 8 (Mei) langsung berangkat," kata Luhut dikutip dari Antara.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno pekan lalu mengatakan jadwal pengoperasian proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung (KCJB) mundur. Rini menargetkan proyek ini bisa beroperasi pada Maret 2021. Padahal, sebelumnya dia menargetkan pada akhir 2020.

Dia menjelaskan mundurnya target pengoperasian ini dikarenakan proyek tersebut harus menjalani masa uji coba. "Jadi testing makan waktu lama, antara 3-4 bulan untuk menjaga betul-betul keselamatan," kata Rini.