Warga AS Tewas Ditembak Agen Federal, Operasi Imigrasi Trump Diprotes

TikTok @shaydcharacters
Kiri: tangkapan layar yang menunjukkan Alex Pretti diduga tengah bergulat dengan petugas ICE. Kanan: warga menggelar aksi unjuk rasa terkait kematian Alex Pretti
Penulis: Desy Setyowati
25/1/2026, 13.53 WIB

Alex Jeffrey Pretti, seorang warga Minneapolis berusia 37 tahun, ditembak mati oleh agen federal pada Sabtu (24/1) waktu Amerika Serikat, selama operasi penegakan hukum imigrasi atau razia terhadap dugaan imigran ilegal. Kejadian ini memicu protes dan perdebatan baru tentang tindakan keras pemerintahan Donald Trump terkait imigrasi.

Menurut Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS), insiden itu terjadi pada Sabtu (24/1) sekitar pukul 09.05 pagi, selama operasi federal yang ditargetkan untuk menangkap individu tanpa dokumen.

DHS mengatakan Alex Pretti mendekati petugas Patroli Perbatasan AS dengan pistol semi-otomatis 9 mm dan dua magazin. Petugas berusaha melucuti senjatanya, tetapi para pejabat mengklaim dia melawan dengan keras, yang menyebabkan seorang agen melepaskan tembakan yang digambarkan sebagai tembakan untuk membela diri.

Otoritas itu mengklaim bahwa Alex Pretti tidak membawa identitas apa pun.

Namun, dikutip dari Newsx, pihak berwenang setempat mengonfirmasi bahwa Alex Pretti adalah warga negara AS dan pemilik senjata api yang sah dengan izin membawa senjata. Selain itu, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa Pretti terkait dengan individu yang menjadi target operasi Immigration and Customs Enforcement atau ICE di bawah DHS.

Berdasarkan video yang beredar di media sosial, beberapa agen federal terlihat bergulat dengan Alex Pretti beberapa saat sebelum beberapa tembakan dilepaskan. Klip lain menunjukkan agen-agen mendekati dan mendorongnya tepat sebelum konfrontasi meningkat.

Rekaman itu telah memicu kemarahan publik dan menimbulkan pertanyaan tentang apakah penggunaan kekerasan itu dapat dibenarkan.

Setelah penembakan itu, puluhan demonstran berkumpul di dekat lokasi kejadian, menuntut penangkapan agen federal yang terlibat. Aparat penegak hukum kemudian menggunakan gas air mata dan granat kejut untuk membubarkan massa.

Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey, menuduh pemerintahan Trump ‘meneror’ kota itu. “Berapa banyak lagi warga Amerika yang harus mati atau terluka parah agar operasi ini berakhir?" kata dia.

Gubernur Minnesota Tim Walz menggambarkan insiden itu sebagai hal yang mengerikan. Ia mengatakan sudah berbicara dengan Gedung Putih untuk mendesak Presiden Donald Trump menghentikan operasi federal yang sedang berlangsung di negara bagian itu.

Trump menerbitkan perintah eksekutif ‘Protecting the American People Against Invasion’ pada 20 Januari 2025, yang menyatakan bahwa prioritas pemerintah yakni melaksanakan hukum imigrasi secara penuh dan melakukan tindakan terhadap ‘alien inadmissible’ atau orang yang tidak memenuhi syarat untuk masuk AS dan alien removable atau yang harus dideportasi.

Pada Juni tahun lalu, Trump mengeluarkan memo yang meminta Garda Nasional dan personel federal lainnya menyediakan perlindungan terhadap petugas ICE di bawah DHS, selama operasi penegakan.

Kebijakan itu beberapa kali didemo oleh masyarakat Amerika Serikat di sejumlah negara bagian.

Alex Pretti setidaknya merupakan korban penembakan ketiga yang melibatkan agen federal di Minneapolis dalam beberapa pekan terakhir. Awal bulan ini, seorang petugas imigrasi federal menembak mati Renée Good, warga negara Amerika lainnya, yang memicu protes nasional dan memperintensifkan kontroversi politik atas tindakan penegakan hukum federal.

Pihak berwenang federal dan lokal sedang menyelidiki penembakan itu. Pejabat kota mengonfirmasi bahwa setidaknya dua agen melepaskan tembakan selama insiden itu. Rincian lebih lanjut diharapkan akan terungkap setelah rekaman kamera tubuh dan keterangan saksi ditinjau.

Saat Minneapolis bergulat dengan meningkatnya keresahan, kematian Alex Pretti telah menjadi titik fokus dalam perdebatan nasional yang lebih luas tentang penegakan hukum imigrasi, keselamatan publik, dan penggunaan kekuatan oleh lembaga federal.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.