Khawatir Lonjakan Harga Minyak, AS Longgarkan Sanksi Terhadap Iran

Vecteezy.com/Uriel Eichenbaum
Ilustrasi stok minyak mentah.
Penulis: Ahmad Islamy
21/3/2026, 13.56 WIB

Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengambil langkah yang cukup mengejutkan dengan menangguhkan sanksi atas pembelian minyak Iran yang berada di laut selama 30 hari. Kebijakan darurat itu menjadi upaya terbaru Washington untuk meredam lonjakan harga minyak dunia yang dipicu oleh pecahnya perang antara AS-Israel melawan Iran. 

Melalui pengumuman di media sosial X, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan, pelonggaran tersebut diharapkan mampu membawa sekitar 140 juta barel minyak ke pasar global. Tujuannya adalah untuk meringankan tekanan luar biasa pada pasokan energi dunia saat ini.

Langkah itu mencerminkan kekhawatiran mendalam Gedung Putih terhadap efek domino ekonomi yang dihasilkan dari serangan tiga minggu terakhir ke Iran. Lonjakan harga energi dikhawatirkan akan memukul sektor bisnis dan konsumen domestik di AS, terutama menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) pada November mendatang. 

Dalam situasi ini, nasib politik Partai Republik yang ingin mempertahankan kendali di Kongres sangat bergantung pada stabilitas harga bensin di stasiun pengisian bahan bakar di Negeri Paman Sam.

Dalam menjelaskan strategi di balik kebijakan itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent memberikan pernyataan yang cukup provokatif mengenai taktik Gedung Putih. “Pada intinya, kami akan menggunakan barel-barel minyak milik Iran untuk melawan Teheran demi menjaga harga tetap rendah selagi kami melanjutkan Operasi Epic Fury,” ujar Bessent seperti dikutip Reuters, Sabtu (21/3).

Dia juga menambahkan, meskipun minyak tersebut dilepas ke pasar, Washington akan tetap menjaga tekanan maksimum agar Iran kesulitan mengakses pendapatan yang dihasilkan dari penjualan minyaknya melalui sistem keuangan internasional. Secara logistik, kebijakan tersebut diprediksi memberikan napas lega bagi kawasan Asia, yang menjadi pembeli utama minyak Timur Tengah. 

Menteri Energi AS Chris Wright memperkirakan pasokan tersebut bisa mencapai pasar Asia dalam waktu singkat, sekitar tiga hingga empat hari. Selanjutnya, keberadaan stok minyak itu diprediksi baru mulai memengaruhi harga pasar setelah melalui proses pemurnian dalam satu setengah bulan ke depan. 

Meski sejarah mencatat AS hampir tidak pernah mengimpor minyak Iran sejak Revolusi Islam 1979, langkah kali ini lebih ditujukan untuk menyeimbangkan suplai global yang sempat kacau akibat penutupan Selat Hormuz oleh Teheran.

Namun, kebijakan tersebut juga memicu kritik dan kekhawatiran mengenai ketahanan strategi ekonomi Amerika Serikat. 

Sejak perang AS-Israel dengan Iran meletus pada 28 Februari lalu, harga minyak telah melonjak hingga 50 persen, memaksa pemerintahan Donald Trump melakukan tiga kali penangguhan sanksi terhadap lawan-lawannya, termasuk Rusia, dalam waktu singkat. 

Pengamat energi dari Obsidian Risk Advisers, Brett Erickson, memberikan peringatan keras mengenai situasi tersebut. “Jika kita (Amerika) sudah sampai pada titik melonggarkan sanksi terhadap negara yang sedang berperang dengan kita, itu artinya kita benar-benar mulai kehabisan pilihan,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.