Serba-serbi Kebijakan Negara Asia Tenggara Sikapi Kenaikan Harga BBM
Sejumlah negara di Asia Tenggara mengalami kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat melonjaknya harga minyak dunia. Harga telah meningkat lebih dari 40% sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Pada Jumat (20/3), harga minyak mentah Brent tercatat sebesar US$105,43 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$ 94 per barel.
Dalam dua minggu terakhir, harga minyak memang berfluktuatif mengikuti perkembangan situasi Timur Tengah. Namun, harganya selalu berkisar di US$100 untuk Brent dan US$90 untuk WTI.
Di Malaysia, pemerintah kembali menaikkan harga BBM untuk pekan kedua berturut-turut. Mengutip Malay Mail, ini dilakukan untuk menyesuaikan harga domestik dengan pasar global yang bergejolak.
Mulai 19 hingga 25 Maret 2026, Bensin RON97 naik 70 sen menjadi 4,55 ringgit Malaysia per liter. Sementara itu, solar melonjak 80 sen menjadi 4,72 ringgit per liter
Kendati demikian, pemerintah tetap mempertahankan harga bensin bersubsidi BUDI95 di level 1,99 ringgit Malaysia per liter guna melindungi masyarakat. Sementara itu, harga RON95 nonsubsidi tetap di 3,27 ringgit Malaysia per liter.
Harga solar di Sabah, Sarawak dan Labuan juga ditahan di level 2,15 ringgit Malaysia per liter untuk menjaga stabilitas kawasan.
Dalam dua pekan terakhir, harga solar di Semenanjung Malaysia telah naik total 1,60 ringgit Malaysia per liter. Pemerintah menyebut kebijakan ini sebagai upaya penyesuaian bertahap dengan tetap menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.
Pemerintah Filipina Bakal Siapkan Subsidi
Seiring dengan kenaikan harga BBM, pemerintah Filipina berencana akan menyiapkan subsidi. Presiden Ferdinand Marcos Jr. memastikan pemerintah terus berupaya meredam dampak kenaikan harga minyak global.
Mengutip Philippine News Agency, pemerintah setempat tengah menyiapkan berbagai langkah, termasuk penyaluran subsidi kepada sektor terdampak dan pencarian sumber energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan dari Timur Tengah.
Marcos menyebut harga minyak saat ini sangat fluktuatif dan sulit diprediksi. Meski demikian, pemerintah memastikan pasokan energi dan bahan pokok masih mencukupi.
Selain itu, bantuan juga disalurkan kepada pekerja sektor transportasi guna menahan kenaikan tarif, terutama menjelang periode libur keagamaan.
Menteri Energi Sharon Garin menyebut proyeksi harga tersebut baru berlaku untuk kawasan metro atau perkotaan. Sementara harganya akan bervariasi, cenderung lebih tinggi di daerah terpencil.
Kamboja Bakal Tingkatkan Impor di Singapura dan Malaysia
Sementara itu, Kamboja bakal meningkatkan impor bahan bakar dari pemasok di Singapura dan Malaysia untuk menutupi kekurangan pasokan dari Vietnam dan Cina.
Menteri Energi Kamboja Keo Rottanak mengatakan pembatasan ekspor dari sejumlah negara pemasok mendorong pemerintah mencari alternatif pasokan. Vietnam dan Cina diketahui membatasi ekspor bahan bakar hingga akhir Maret untuk mengantisipasi potensi kekurangan di dalam negeri.
“Kami masih bisa mengimpor sebagian kecil dari Cina. Namun karena memiliki kemitraan kuat dengan pemasok global seperti TotalEnergies dan Chevron, risiko pasokan dapat ditekan,” ujar Rottanak, dikutip dari Reuters, Jumat (20/3).
Tekanan pasokan sempat memicu gangguan distribusi dalam negeri. Sekitar sepertiga dari 6.300 SPBU di Kamboja sempat tutup pekan lalu akibat ketidakpastian harga. Namun, kondisi mulai membaik dengan hanya 5,77% SPBU yang masih tidak beroperasi.
Secara historis, Thailand dan Vietnam menyumbang lebih dari 60% impor produk minyak Kamboja pada 2024. Sementara itu, Singapura dan Malaysia berkontribusi hampir sepertiga, dan China sekitar 7%, berdasarkan data International Trade Centre.
Rottanak memastikan cadangan bahan bakar nasional masih berada pada level normal. Meski demikian, Kamboja yang belum memiliki kilang minyak hanya memiliki stok energi, termasuk solar, avtur, LPG dan bensin untuk kurang dari satu bulan dalam kondisi normal.
