Pidato di PBB, Presiden Iran Salahkan AS dan Israel atas Instabilitas Global
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyalahkan Amerika Serikat (AS) dan Israel karena memicu ketidakstabilan global. Ia juga menuduh kedua negara itu melancarkan serangan ilegal terhadap warga sipil dan infrastruktur negaranya.
Pidato Pezeshkian di hadapan Sidang Umum PBB di New York, pada Rabu (23/9), itu merupakan kecaman keras terhadap Presiden Donald Trump. Sehari sebelumnya, Trump menyatakan kepada PBB bahwa ia sedang mempertimbangkan untuk "memusnahkan" Iran setelah hampir tujuh bulan berperang.
Pernyataan tersebut juga bertolak belakang dengan narasi yang terus digaungkan Trump bahwa Iran sangat menginginkan kesepakatan damai, dan kesepakatan semacam itu kemungkinan besar akan tercapai segera setelah pemilihan umum sela tanggal 3 November.
Trump tidak hadir di PBB pada hari Rabu (23/9). Ia telah kembali ke Washington pada malam sebelumnya menjelang kedatangan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk kunjungan kenegaraan.
Pezeshkian, yang menggambarkan Iran sebagai korban agresi AS dan Israel, menyatakan negaranya akan terus melawan hingga embusan napas terakhir.
"Presiden Amerika Serikat menyebut kami sebagai teroris. Padahal, kamilah yang menjadi korban terorisme," ujar Pezeshkian, seperti dikutip CNBC International.
"Apakah kami sumber ketidakstabilan? Kami hanya ingin hidup secara mandiri," kata Pezeshkian. "Apakah kami yang menyebabkan ketidakstabilan? Apakah mereka yang melakukan terorisme dan tindak kejahatan itu justru merupakan penjaga perdamaian dan stabilitas?"
Kehadiran Pezeshkian ini merupakan peristiwa bersejarah. Menurut laporan The New York Times, belum pernah ada pemimpin lain yang berpidato secara langsung di PBB saat negaranya sedang terlibat perang aktif dengan AS.
Kejahatan Perang
Pezeshkian mengawali pidatonya dengan memperlihatkan foto-foto anak-anak yang tewas akibat bom AS dan Israel. Serangan rudal Tomahawk terhadap sebuah sekolah dasar di Minab, Iran selatan, pada hari pertama perang menewaskan lebih dari 150 orang—termasuk sekitar 120 anak-anak—meskipun berbagai sumber memberikan angka korban yang berbeda-beda.
Sebuah penyelidikan militer awal menyimpulkan AS bertanggung jawab atas serangan tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh The Times pada bulan Maret 2026. Namun, Pentagon belum memublikasikan kesimpulan resminya.
Misi Pencari Fakta Internasional Independen PBB untuk Iran menyatakan pada awal bulan ini bahwa mereka menemukan "dasar yang kuat" untuk meyakini bahwa AS telah melakukan kejahatan perang. AS melancarkan serangan tanpa pandang bulu yang menewaskan atau melukai warga sipil, termasuk serangan yang menghantam sekolah tersebut.
Dalam pidatonya pada hari Selasa (229), Trump mengecam Dewan Hak Asasi Manusia PBB sebagai pihak yang "pengecut dan munafik" karena mengkritik kebijakan imigrasi dan transgender AS, namun "hampir tidak berkomentar mengenai penindasan terhadap umat Kristen."
Trump juga mengatakan ia harus mengambil keputusan besar terkait apakah akan membuat kesepakatan dengan Iran atau membinasakan Republik Islam tersebut dan melakukannya dengan cepat.
"Apakah saya akan mencampakkan mereka ke neraka tanpa peluang untuk bertahan hidup dan tanpa harapan akan kejayaan atau kelangsungan generasi di masa depan?" ujar Trump secara terbuka.
AS dan Iran Lakukan Negosiasi di Sela-sela Kegiatan PBB
Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa para pejabat AS telah mengadakan pertemuan selama tiga jam yang "sangat baik" dengan utusan Iran di sela-sela kegiatan PBB.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei, belakangan menyatakan pertemuan tersebut berlangsung "sekitar dua jam."
Para pejabat Iran memaparkan syarat-syarat yang "jelas dan transparan" untuk menghidupkan kembali diplomasi dengan AS dalam pembicaraan tersebut, ujar Baghaei dalam sebuah unggahan di X.
Ia mengatakan Teheran menginginkan AS mengakhiri blokade lautnya di Teluk Oman dan menghentikan tindakan "terorisme ekonomi"—yang tampaknya merujuk pada upaya pemerintahan Trump untuk menekan Iran dengan menjatuhkan sanksi terhadap mitra-mitra ekonominya.
Syarat-syarat lain dalam daftar Baghaei mencakup pelepasan aset Iran yang dibekukan dan pencapaian kesepakatan mengenai "jalur pelayaran yang aman" di Selat Hormuz, yang sebelumnya melayani pengangkutan 20% pasokan minyak dunia sebelum perang pecah.
Daftar syarat tersebut kemungkinan besar tidak akan diterima oleh AS, yang berulang kali menyatakan bahwa tujuannya adalah memastikan Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.
Iran bersikeras mereka tidak berupaya memiliki senjata semacam itu, namun menegaskan haknya untuk mengembangkan program nuklir demi tujuan damai.
"Untuk membela negara kami, kami tidak meminta izin siapa pun," ujar Pezeshkian di PBB. "Kami tidak akan menundukkan kepala dan melepaskan hak yang secara inheren merupakan milik kami. Kami menyatakannya dengan tegas: Tidak ada senjata nuklir dan tidak ada pembatasan terhadap teknologi nuklir damai yang baru."
Menjelang pidato Pezeshkian pada Rabu pagi, militer Iran menepis ancaman terbaru Trump dengan menyebutnya sebagai "tanda keputusasaan strategis," sembari menegaskan kesiapan mereka untuk meningkatkan serangan balasan.