Menag Sebut Belajar Agama Lewat Medsos Rawan Jadi Intoleran

ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay
Menteri Agama Fachrul Razi (tengah) menyebut konten agama di medsos banyak yang berisi ajaran radikal dan intoleran.
Penulis: Rizky Alika
Editor: Ekarina
14/11/2019, 10.05 WIB

Sehingga, banyak masyarakat kini cenderung mencari sumber informasi agama melalui internet. Akibatnya, masyarakat menjadi tidak mandiri dan fokus pada otoritas agama tertentu.

Kondisi tersebut juga mencerminkan masyarakat yang mengganggap otoritas agama seperti guru, kyai, dan ustaz sebagai alternatif. Fachrul menilai, hal ini berbeda dengan generasi sebelumnya yang taat kepada fatwa otoritasnya.

"Akibatnya pemikiran keagamaan sebagian besar kita cenderung intoleran dan mudah terpapar ideologi radikal ekstrem," katanya.

(Baca: Bantah Larang ASN Gunakan Cadar, Menag Sebut Hanya Merekomendasikan)

Sebaliknya, lanjut dia, masyarakat juga rawan menjadi super intoleran hingga mengganggu sendi-sendi beragama akibat banyaknya pemikiran dari media sosial.

Banyak konten keagaamaan yang beraliran radikal dan ekstrem bisa dengan mudah dikonsumsi  masyarakat tanpa berkonsultasi atau meminta pendapat dari otoritas atau sumber resmi agama terlebih dahulu.

Halaman:
Reporter: Rizky Alika