Program E-Smart IKM Butuh Pembinaan Tambahan E-Commerce

ANTARA FOTO/Aji Styawan
Ilustrasi produk industri kecil menengah (IKM). Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong marketplace untuk memberikan pembinaan kepada IKM dalam meningkatkan keberlangsungan bisnisnya.
Penulis: Michael Reily
Editor: Sorta Tobing
19/6/2019, 17.53 WIB

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong marketplace untuk memberikan pembinaan kepada industri kecil menengah (IKM) dalam meningkatkan keberlangsungan bisnisnya. Alasannya, capaian program e-Smart IKM masih cukup rendah.

Program e-Smart IKM merupakan sistem basis data IKM nasional yang tersaji dalam bentuk profil industri, sentra, dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace, seperti Blibli, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, dan lainnya. Tujuan program ini adalah agar IKM nasional semakin aktif memasarkan produknya melalui perdagangan online

Sekretaris Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian Eddy Siswanto mengungkapkan pelaku industri dalam program e-Smart IKM yang masuk ke dalam marketplace sekitar tujuh ribu unit per Mei 2019. Namun, capaian nilai transaksi masih relatif rendah dengan besaran hanya Rp 2 miliar.

Penyebab rendahnya transaksi itu karena masa bertahan produk IKM di marketplace yang hanya sebentar. "Seminggu, dua minggu, tidak ada respons karena kurang baik tampilan dan kualitas sehingga tidak terjadi sustainability pembelian," kata Eddy di Jakarta, Rabu (19/6).

Eddy menjelaskan pemerintah sudah mencoba untuk memberikan wawasan tambahan ke pasar dalam program e-Smart IKM. Contohnya, melalui pelatihan Kementerian Perindustrian seperti pengemasan dan foto menarik dalam marketplace.

Namun, pembinaan juga perlu dilakukan oleh para marketplace. "Pembinaan juga jadi bagian e-commerce seperti Blibli, sehingga ke depan ada peningkatan kelas untuk IKM," ujarnya.

(Baca: Gaet 100 Ribu Penjual, Blibli Berencana  Ekspor Produk Lokal)

Deputy Chief Marketing Officer (CMO) Blibli Andy Adrian menyebutkan, perusahaan mencoba merangkul IKM dan para wirausaha baru, salah satunya melalui The Big Start Indonesia. Program pembinaan startup ini sudah berlangsung sejak 2016 lalu.

Andy mengatakan, pembinaan yang Blibli lakukan terutama untuk mempelajari tantangan dan masalah hukum. “Pendekatan kami melalui dua cara, insiasi untuk mulai serta penguatan usaha. Produk yang bagus harus sesuai aturan,” katanya.

Blibli telah mengeluarkan dana Rp 1,3 miliar untuk program itu. Empat sektor yang paling banyak mengikuti The Big Start Indonesia adalah produk fesyen, kecantikan dan kesehatan, kuliner, serta kriya.

Salah satu pemenang dalam The Big Start Indonesia tahun ketiga adalah Kingsmith, produsen tas pintar multifungsi. Pendiri Kingsmith Robbi Ibadi mengungkapkan pembinaan startup memberikan usahanya bantuan dana dan pemasaran.

Dia pun berhasil melewati kurasi dari 7 ribu usaha lain. "Persyaratannya cukup mudah tetapi kami mendapatkan akses yang selama ini jadi rintangan," kata Robbi.

(Baca: Blibli Gunakan Whatsapp for Business Untuk Notifikasi Pelanggan)

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Michael Reily