Tiga Strategi LPN Tingkatkan Produktivitas Nasional

Kementerian Ketenagakerjaan
Penulis:
Editor: Arsip
6/5/2019, 09.52 WIB

Jakarta--Lembaga Produktivitas Nasional (LPN) mendorong pemerintah untuk mempercepat peningkatkan produktivitas dan daya saing. Upaya itu dilakukan melalui Gerakan Nasional Peningkatan Produktivitas dan  Daya Saing (GNP2DS) di seluruh Indonesia.

"Itu kunci untuk bisa menjadi negara maju dan bisa keluar dari jebakan kelas menengah?" kata Wakil Ketua LPN Iskandar Simorangkir usai menggelar rapat pleno LPN tahun 2019 di Jakarta, Jum'at (3/5/2019). Ia menegaskan program LPN harus menjadi  budaya bagi pekerja untuk meningkatkan produktiitas dan daya saing,

Program kedua hasil rapat pleno kata Iskandar Simorangkir adalah memberikan usulan kepada pemerintah berupa sistem pengupahan yang adil dengan tidak merugikan pekerja dan pemberi kerja (pengusaha). 

"Untuk menjadi negara maju, konflik antara pekerja dengan pemberi kerja harus diselesaikan. Yakni memberi usulan ke pemerintah sistem pengupahan yang tidak merugikan pekerja dan pemberi kerja, " katanya.

Program ketiga kata Iskandar yakni peningkatan SDM sebagai kunci sukses sebuah negara. Untuk itu pleno LPN memberikan masukan kepada presiden langkah-langkah meningkatkan kualitas SDM sehingga produktivitasnya meningkat.

"Kalau tidak bisa tingkatkan produktivitas, kita akan terjebak ke dalam kelas menengah, " katanya.

Hadir dalam rapat pleno Ketua Tim Kerja LPN 2019 Bomer Pasaribu, Wakil Ketua Tim Kerja Moedjiman, Wakil Ketua Iskandar Simorangkir, 17 anggota LPN dari Kementerian, Sekretariat LPN. Hadir juga Direktur Bina Produktivitas Ditjen Binalattas Kemnaker, M. Zuhri.

Zuhri mengatakan pleno ini juga menyepakati untuk merevitalisasi atau memberdayakan LPN sebagai lembaga yang berdampak pada peningkatan produktivitas sebuah bangsa. Ke depan menurutya produktivitas merupakan tolok ukur sebuah bangsa maju yakni bangsa yang produktif. "Karena itu pilihannya bangsa kita harus produktif agar bisa maju dan sejajar dengan bangsa-bangsa lain, " lanjutnya. 

Zuhri menambahkan terpilihnya Sekjen APN kali pertama dari Indonesia yaitu AKP Mochtan diyakini akan menentukan arah kebijakan terkait peningkatan produktivitas dan posisi Indonesia secara regional maupun internasional. 

Menurut Zuhri, revolusi 4.0 memberikan keuntungan dan merupakan tantangan bagi peningkatan produktivitas tenaga kerja. Khususnya di bidang pengelolaan human resources dan peningkatan daya saing dalam era globalisasi ini. Untuk meningkatan produktivitas tenaga kerja, pemerintah melalui Kemnaker telah membuat program triple skilling yaitu skilling, reskilling dan upskilling.

Zuhri menegaskan kinerja yang telah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh LPN yakni meningkatkan peran LPN melalui revisi Peraturan Presiden Nomor: Perpres No. 50 Tahun 2005. Selanjutnya menyikronkan lembaga tersebut dengan kegiatan-kegiatan Association Productivity Organization (APO). 

"Implementasi GNP2DS, merupakan salah satu target prioritaskan Kemnaker, " katanya. 

Hal senada dikatakan Sekjen APO terpilih  Mochtan. Menurutnya untuk menuju sebagai negara maju, kuncinya terletak pada produktivitas. "Today is better than yesterday and tomorrow is better than today,” kata Mochtan.

Dibandingkan negara-negara lain di Asean, produktivitas Indonesia masih di bawah negara Thailand, Malaysia, dan terutama singapura. 

"Nah ini kesempatan bagi kita, bagaimana produktifitas kita maju juga. Jadi produktifitas kita sudah membaik, belum optimal. Tetapi kita harus lebih baik lagi dan tetap optimis," tutupnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.