Pemerintah Dorong Investasi Bahan Baku Substitusi Sutra

Arief Kamaluddin | Katadata
Pameran Gelar Batik 2015
Penulis: Michael Reily
Editor: Pingit Aria
20/3/2019, 19.40 WIB

Pemerintah mendorong penggunaan serat rayon (bemberg) untuk mensubstitusi serat sutra sebagai bahan baku kain batik atau kain tenun ikat. Produsen tekstil Jepang Asahi Kasei Fibers pun telah menyatakan minat investasi.

Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyatakan sudah bertemu dengan Asahi, pada akhir 2018 lalu. "Kami sudah ketemu mereka, sepanjang permintaan bemberg tinggi, mereka akan memindahkan pabrik ke Indonesia," kata Gati di Jakarta, Rabu (20/3).

Produk Asahi merupakan benang bemberg yang berasal dari serat rayon. Gati mengungkapkan, substitusi produk merupakan langkah terbaik oleh industri batik dan tenun karena benang dari bahan baku serat sutra semakin langka, harganya pun semakin mahal.

Dia mengungkapkan, pemerintah akan melakukan sosialisasi kepada sentra batik dan tenun terhadap bahan baku baru. Namun, menurutnya sudah banyak produsen kain warisan nusantara yang memilih bemberg sebagai salah satu bahan baku batik dan tenun. Catatan Kementerian Perindustrian, kebutuhan sutra IKM mencapai 732 ton setiap tahun.

(Baca: Produksi Batik dan Tenun Serap Lebih dari 70 Ribu Tenaga Kerja)

Gati menambahkan, investasi Asahi di Indonesia bakal membuat harga benang bemberg lebih murah daripada sutra. Apalagi, benang bemberg sudah dalam produk berupa benang polos dan benang berwarna. "Sehingga nilai ekspor batik dan tenun bisa punya daya saing lebih tinggi," ujarnya.

Menurutnya, karakteristik bemberg lebih ramah lingkungan karena produknya merupakan zat buangan dari pemintalan benang. Sehingga, karakteristiknya bisa memiliki penampakan seperti sutra.

Salah satu produsen pengguna bemberg adalah Zainal Songket milik Zainal Arifin Husin, produk songket asal Palembang yang telah memiliki cabang butik di Jakarta dan Bandung. Zainal mengaku keunggulan bemberg adalah tidak luntur karena benangnya sudah lebih solid.

Dia menjelaskan, produk bemberg lebih ramah lingkungan karena industri tak harus memberikan warna pada benang lagi. "Tidak ada limbahnya, produksi jadi lebih cepat, otomatis ongkos produksi semakin murah," kata Zainal.

(Baca: Ekspor Batik Indonesia Capai Rp 747 Miliar Sepanjang 2018)

Menurutnya, Zainal Songket sudah menggunakan bahan baku impor dari Jepang selama 8 bulan terakhir untuk menghindari persaingan dengan pengrajin lain di Tanah Air. Terlebih, tahun lalu, Asian Games 2018 juga menjadi prioritas para pelaku usaha batik dan tenun karena Palembang menjadi salah satu kota penyelenggaraan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Michael Reily