PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) memberi batas waktu konsorsium PT Pertamina, Engie, dan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk untuk menyerahkan proposal proyek gas alam cair alias liquefied natural gas (LNG) Indonesia Tengah. Tenggatnya sampai pekan depan.

Kepala Divisi Pengadaan Bahan Bakar Minyak dan Gas Bumi PLN Chairani Rachmatullah mengatakan sampai hari ini proposal dari pihak konsorsium belum diterima oleh PLN. “Batas waktunya 19 Desember ini kalau tidak salah,” kata Chairani kepada Katadata.co.id, Rabu (12/12).

Dikonfirmasi terpisah, Direktur Utama PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Gigih Prakoso mengatakan pihaknya masih mengkaji proposal tersebut. Ia memastikan akan mengajukan usulan proyek bulan ini sesuai target sebelumnya. “Segera disampaikan bulan ini,” kata dia kepada Katadata.co.id.

(Baca: PLN Gandeng Pertamina Membangun Fasilitas Mini LNG di Flores)

Konsorsium ini perlu mengkaji proposal tersebut untuk menghitung ulang keekonomian proyek. Apalagi kapasitas proyek LNG Indonesia Tengah berubah seiring dengan penurunan permintaan gas di sekitar area tersebut. Awalnya kebutuhan gas untuk proyek LNG tersebut sebesar 100 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Namun, PLN menurunkan menjadi 70 MMscfd.

Sebelumnya, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Supangkat Iwan Santoso pernah mengatakan penghitungan ulang permintaan gas pada proyek anyar itu karena dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2018-2027 disebutkan bahwa pembangkit bahan bakar gas berkurang.

Di dalam RUPTL 2018-2027, pembangkit listrik PLN dipangkas menjadi 56.000 Megawatt (MW) dari sebelumnya 78.000 MW. Penurunan jumlah pembangkit itu pun mempengaruhi kebutuhan gas PLN.

(Baca: PLN Masih Kekurangan 101 Kargo Gas untuk Kebutuhan hingga 2027)

Di RUPTL 2018-2027, kebutuhan gas turun menjadi 2.000  billion British thermal unit per day  (BBTUD). Padahal, RUPTL 2017-2026 memprediksi kebutuhan gas PLN sebesar 3.300 BBTUD. Sementara tahun ini daya serap PLN terhadap gas untuk pembangkit sekitar 1.400 BBTUD.

Seperti diberitakan sebelumya, proyek LNG Indonesia Tengah merupakan bagian dari 11 proyek zonasi pasokan LNG untuk kelistrikan di Indonesia yang diusung PLN. Proyek ini mencakup area Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.

(Baca: Pengajuan Proposal Proyek LNG Indonesia Tengah Mundur ke Akhir Tahun)

Rencana zonasi merupakan hasil studi dari beberapa lembaga konsultan PLN. Pengembanganya dilakukan secara bertahap dengan pertimbangan operasi pembangkit di area tersebut dan keekonomian Biaya Pokok Penyediaan (BPP) setempat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.