Pertamina: Sebagian Pengguna Premium Beralih ke Pertalite

SPBU KATADATA | Arief Kamaludin
SPBU KATADATA | Arief Kamaludin
Penulis: Muchamad Nafi
8/3/2016, 10.30 WIB

KATADATA - PT Pertamina mengklaim penjualan Bahan Bakar Minyak jenis Premium menurun. Salah satu faktornya yaitu kehadiran BBM jenis Pertalite yang mulai dijual Pertamina sejak Juli 2015. Menurut catatan Pertamina, penjualan bensin dengan research octane number (RON) 90 ini terus meningkat.

Vice President Fuel Retail Marketing Pertamina Afandi mengatakan banyak pengguna Premium yang mulai mengalihkan pilihannya ke Pertalite. “Penjualan Pertalite mampu memindahkan kurang lebih lima persen pengguna Premium seluruh Indonesia,” kata Afandi saat dihubungi Katadata, Senin, 7 Maret 2016. Data tersebut didapat Pertamina dalam penjualan Pertalite sepanjang tahun lalu.

Afandi juga menuturkan sebanyak 10 persen pengguna Premium, yang memiliki RON 88, beralih ke Pertalite di Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang sudah menjual produk baru tersebut. Dia berharap penjualan Pertalite akan terus tumbuh. Untuk itu, Pertamina akan berupaya memenuhi permintaan produk ini. (Baca: Konsumen Premium dan Pertamax Beralih ke Pertalite).

Perusahaan migas negara itu mematok penjualan Pertalite akan menggeser 15 konsumen Premium pada tahun ini. Afandi merasa yakin dengan target tersebut. Pasalnya, penjualan Pertalite telah tumbuh enam persen pada Februari lalu dibandingkan dengan volume penjualan pada Desember 2015. Volume penjualan Pertalite sudah mencapai 100 ribu kiloliter per bulan sejak awal pertama peluncurannya.

Sebagaimana diketahui, sebanyak 2.400 SPBU yang tersebar di Indonesia telah menjual Pertalite. Pulau Jawa merupakan daerah yang memiliki SPBU terbanyak yang menjual Pertalite yaitu hingga 1.700 SPBU. Sedangkan, total keseluruhan SPBU yang ada di Indonesia sekitar 5.300 buah. Menurut Afandi, angka ini menggambarkan Pertamina berhasil mendorong hampir separuh SPBU menjual Pertalite. (Lihat pula: Target Penjualan Pertalite Tahun Depan 3 Juta Kiloliter).

Ketika perusahaan pelat merah ini meluncurkan Pertalite pertengahan tahun lalu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said mendukungnya. Menurut dia, Pertalite menjadi langkah awal pemerintah dalam menerapkan penggunaan bahan bakar yang lebih bersih menuju standarisasi penggunaan BBM beroktan 95.

Di lain pihak, anggota Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB) Ahmad menyatakan bahwa peluncuran Pertalite yang beroktan 90 tidak tepat. Sebab sejak 2007, kendaraan di Indonesia telah menerapkan teknologi standar Euro 2 atau menggunakan bahan bakar beroktan 92.

Reporter: Miftah Ardhian