KATADATA - Anjloknya harga minyak dunia telah mendorong banyak perusahaan minyak dan gas bumi (migas) multinasional mengencangkan ikat pinggangnya dan mengerem ekspansi usaha. Langkah tersebut juga ditempuh Petroliam Nasional Bhd (Petronas).
Dalam empat tahun ke depan, perusahaan minyak dan gas bumi (migas) milik pemerintah Malaysia ini berencana memangkas belanja modal dan operasionalnya. Nilai pemangkasannya cukup besar, yaitu 50 miliar ringgit atau setara Rp 159 triliun.
Kebijakan tersebut bisa pula mempengaruhi beberapa proyek migas Petronas di Indonesia. Namun, Business Development & External Relations Manager Petronas Carigali Indonesia Operations Pudja Kartawidjaja memastikan, kebijakan tersebut belum mempengaruhi proyek migas di tanah air. Hingga kini, belum ada keputusan dari kantor pusat Petronas di Kuala Lumpur, Malaysia, untuk menunda atau menghentikan proyek yang sedang berjalan di Indonesia.
“Semua masih seperti biasa sambil kami masih menunggu arahan selanjutnya dari kantor pusat. Setelah semua clear akan kami kabari,” katanya kepada Katadata, Kamis (21/1).
(Baca : Tahun Ini 13 Proyek Migas Mulai Beroperasi)
Semua kegiatan pun masih sesuai dengan rencana kerja dan anggaran perusahaan (WPNB) tahun ini. Termasuk rencana pencapaian puncak produksi Lapangan Bukit Tua di Blok Ketapang. Lapangan ini direncanakan mencapai puncak produksi sebesar 20 juta kaki kubik (mmscfd) tahun ini. Sementara produksi minyaknya mencapai 18.033 barel per hari.
Selain di wilayah kerja Ketapang, Petronas memiliki delapan wilayah kerja migas di Indonesia. Besaran kepemilikan sahamnya berbeda-beda. Porsi kepemilikan terkecil ada di wilayah kerja Natuna Sea ‘A’ sebesar 15 persen saham. Sementara kepemilikan saham terbanyak di Blok Muria dan Blok Ketapang masing-masing sebesar 80 persen.
- Wilayah Kerja Natuan Sea ‘A’ sebesar 15 persen
- Wilayah Kerja Surumana sebesar 20 persen
- Wilayah Kerja Madura Offshore sebesar 22,5 persen
- Wilayah Kerja Randugintung sebesar 30 persen
- Wilayah Kerja SE Palung Aru sebesar 33,3 persen
- Wilayah Kerja Jabung sebesar 42,85 persen
- Wilayah Kerja Glagah Kambuna sebesar 60 persen
- Wilayah Kerja Muriah sebesar 80 persen
- Wilayah Kerja Ketapang sebesar 80 persen.
Anjloknya harga minyak dunia sebenarnya tidak hanya dirasakan Petronas. PT Pertamina (Persero) juga berencana memangkas biaya hingga 30 persen. (Baca : Efisiensi, Pertamina Kurangi Aktivitas Jalan-Jalan ke Luar Kota)
Di sektor hulu, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) yang merupakan anak usaha Pertamina, mengurangi belanja modal tahun ini menjadi US$ 686 juta. Padahal, belanja modal PHE tahun lalu mencapai US$ 840 juta. Alhasil, target produksi minyak turun 3,6 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 63.900 barel per hari. Sedangkan target produksi gas lebih rendah 3,8 persen menjadi 678 juta kaki kubik per hari (mmscfd).
Sementara itu, perusahaan migas swasta di Indonesia juga melakukan langkah serupa. Chevron Indonesia bahkan dikabarkan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 1.500 karyawannya pada Maret mendatang. Perusahaan migas asal Amerika Serikat ini juga memutuskan tidak memperpanjang kontrak Blok East Kalimantan yang akan berakhir 2018.