Pertamina Bisa Tambah Produksi Pertamax Tanpa Mengakuisisi TPPI

KATADATA
Pertamina membatalkan rencana akuisisi kilang TPPI
Penulis: Safrezi Fitra
14/1/2015, 15.48 WIB

KATADATA ? Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengaku masih memiliki banyak cara untuk bisa menambah produksi Pertamax, atau bahan bakar minyak (BBM) jenis Mogas 92, tanpa harus mengakuisisi kilang PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI).

"Solusi itu banyak. Kami bisa akuisisi kilang di luar negeri atau tool fee. Buat apa harus tergantung pada TPPI, jika banyak masalah," katanya kepada Katadata, Rabu (14/1).

Pertamina telah diberi waktu selama dua tahun oleh pemerintah untuk menghapus BBM berkadar oktan 88 (RON 88) dan beralih ke Mogas 92. Dengan dihapusnya RON 88 mau tidak mau Pertamina harus bisa meningkatkan produksi Mogas 92 untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dalam negeri.

Untuk meningkatkan produksi bahan bakar tersebut, Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi mengusulkan agar Pertamina mengambil alih kilang TPPI. Akuisisi ini dianggap mampu mengoptimalkan kilang TPPI, dan Pertamina bisa menambah produksi Mogas 92 sebesar 45.000 barel per hari. Saat ini produksi Mogas 92 di dalam negeri hanya 200.000 barel per bulan.

Masalahnya Pertamina menolak untuk mengambilalih atau mengakuisisi TPPI. Banyak masalah termasuk utang yang menumpuk dijadikan salah satu alasan kenapa Pertamina enggan akuisisi TPPI.

Saat ini TPPI memiliki total utang sebanyak US$ 1,8 miliar. Utang tersebut terdiri dari utang berjaminan (secured loan) antara lain sebesar US$ 375 juta kepada Pertamina, sebesar US$ 140 juta kepada SKK migas, dan lain-lain. Sedangkan utang tidak berjaminan pada Pertamina sebesar US$ 230 juta dan kepada beberapa pihak lain. 

Selain itu ada pemegang saham yang menaikan harga saham TPPI menjadi tidak wajar. Sebelumnya Pertamina sempat menawar 21,98 persen saham TPPI milik Agro Capital BV dan Agro Global Holdings BV. Saat itu sudah disepakati harga pembelian sebesar US$ 100 juta.

Namun, saat ini Agro menaikkan harganya menjadi US$ 300 juta. Naiknya harga ini lantaran beberapa waktu lalu Tim Reformasi Tata Kelola Migas mengumumkan rekomendasi Pertamina untuk mengambil alih TPPI. Publikasi besar-besaran ini membuat harga saham TPPI meroket.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan seharusnya Tim Reformasi merekomendasikan masalah TPPI secara diam-diam ke pemerintah. Kemudian Pemerintah melanjutkannya ke Pertamina.

Dengan banyaknya masalah tersebut, Pertamina ingin adanya uji tuntas atau due diligience terhadap TPPI, jika Pertamina diharuskan mengakuisisi TPPI. Pihak Pertamina juga masih menunggu arahan dari pemerintah mengenai kelanjutan pengambilalihan tersebut.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Arnold Sirait