Angola, Eksportir Minyak dari Afrika
KATADATA ? Pemerintah melakukan terobosan dalam pengadaan minyak di domestik melalui impor langsung minyak mentah dari Angola. Hal itu ditandai melalui nota kesepahaman antara PT Pertamina (persero) dengan Sonangol EP, BUMN di sektor migas salah satu negara di Afrika Barat itu.
Menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, Indonesia berpotensi menghemat US$ 2,5 juta atau sekitar Rp 30 miliar per hari. Ini terjadi karena Indonesia akan mengimpor langsung minyak dari negara itu tanpa melalui rantai distribusi yang panjang.
Kerjasama dengan Angola dinilai strategis karena negara itu merupakan salah satu produsen minyak terbesar di kawasan Afrika di bawah Nigeria. Berdasarkan BP Statistical Review, cadangan terbukti minyak Angola mencapai 12,7 miliar barel pada 2013 dengan produksi sebesar 1,8 juta per barel.
Pada 1980, cadangan minyaknya hanya 1,4 miliar barel, jauh di bawah Indonesia yang mencapai 11,5 miliar. Pada waktu itu, produksi minyaknya pun hanya 150 ribu barel per hari, sedangkan Indonesia mampu memproduksi hingga 1,5 juta barel per hari.
Saat ini, kondisinya terbalik. Indonesia hanya memiliki cadangan terbukti sebesar 3,7 miliar barel dan produksi sebesar 882 barel per hari pada 2013.
Perkembangan industri minyak dan gas (migas) Angola tidak terjadi dengan serta merta. Ini sejalan dengan penemuan cadangan minyak dalam jumlah besar pada pertengahan 1990-an yang mendorong investor asing menanamkan modalnya di negara yang terletak di pantai Barat Afrika ini.
Sementara dari sisi regulasi Angola memberikan kewenangan penuh kepada Sonangol, yang dibentuk pada 1976, untuk mengelola potensi migas, sekaligus mengontrol semua aktivitas industri perminyakan. Kewenangan dan hak eksklusif ini kemudian dipertegas melalui Undang-Undang Minyak Bumi tahun 2004.
Berbekal hak eksklusif tersebut, Sonangol menjalin kerjasama serta bernegosiasi dengan perusahaan-perusahaan minyak kelas dunia, seperti ExxonMobil, Chevron, BP, Total SA, CNOOC, dan lainnya. Kerjasama dijalankan lewat sistem kontrak bagi hasil atau pembentukan perusahaan patungan.
Untuk menopang Sonangol, sekaligus memacu eksplorasi, pemerintah Angola juga memberikan insentif pajak.
Saat ini dengan produksi minyak mencapai 1,8 juta barel per hari, Angola menyumbang 2,1 persen dari total produksi global. Sebagian besar atau 90 persen produksinya diekspor ke Cina dan Amerika Serikat, yakni masing-masing 790 barel per hari dan 400 ribu barel per hari.
Minyak telah menjadi komoditas sangat strategis bagi perekonomian Angola. Produk emas hitam ini bukan hanya mencakup 90 persen dari total ekspor negeri itu, melainkan juga menyumbang 80 persen pendapatan negara dan 40 persen dari produk domestik bruto. Rata-rata devisa yang dihasilkan dari minyak mencapai hampir US$ 10 miliar per tahun.
Tidak hanya minyak, Angola juga berhasil mendongkrak cadangan gas alam. Berdasarkan data Oil & Gas Journal, Angola memiliki cadangan gas alam sebesar 10,9 triliun kaki kubik per 1 Januari 2011. Jumlah itu meningkat tajam dibandingkan posisi 2009 sebesar 2 triliun kaki kubik. Jumlah produksi gas alam mencapai 350 miliar kaki kubik, sekitar 70 persennya diekspor.
Berkah minyak memang telah membuat negara yang bertahun-tahun berkecamuk perang saudara itu bisa membangun infrastruktur. Namun, kemakmuran ini telah memunculkan tuduhan bahwa pemerintah telah melakukan korupsi dan menghamburkan uang dari minyak.