Indonesia Buka Peluang Impor Minyak Mentah dari Rusia

Muhammad Zaenuddin|Katadata
Suasana pengerjaan pembangunan Unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) yang merupakan unit proses utama pembangunan proyek refinery development master plan (RDMP) Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (8/1/2022). Proyek kilang minyak sebesar Rp27,93 triliun dengan total komponen luar negeri senilai Rp19,52 triliun dan komponen dalam negeri Rp8,4 triliun tersebut telah mencapai progres 46,92%.
24/6/2025, 16.31 WIB

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan Indonesia membuka potensi impor minyak mentah atau crude dari Rusia. Hal ini menindaklanjuti pembahasan kerja sama yang masuk dalam acara lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pekan lalu.

“Penjajakan ini sudah kami lakukan, saya besok rapat secara marathon dengan tim dari Rusia, termasuk pengusaha BUMN Rusia yang akan datang ke Indonesia. Artinya potensi impor ada, tapi dalam konteks saling menguntungkan,” kata Bahlil dalam konferensi pers Jakarta Geopolitical Forum IX/2025 (JGF 2025), Selasa (24/6).

Bahlil menegaskan, Indonesia menganut asas politik dan ekonomi bebas aktif. Dia menyebut Indonesia tidak terikat pada satu negara manapun. 

“Selama itu saling menguntungkan, termasuk di sektor migas,” ujarnya.

Selain impor, Bahlil menyampaikan kerja sama dengan Rusia juga terkait peningkatan lifting migas Indonesia, baik itu berasal dari sumur tua maupun sumur baru asalkan dapat meningkatkan lifting domestik.

“Karena harus kita akui bahwa Rusia adalah salah satu negara di dunia yang mempunyai pengalaman panjang di bidang perminyakan. Kita punya sumur, kita harus belajar dan kolaborasi,” ucapnya.

Ketua Umum Partai Golkar itu juga menyebut bahwa sejumlah pengusaha migas asal Rusia akan berkunjung ke Indonesia untuk membahas wilayah migas mana yang akan mereka kelola untuk peningkatan lifting migas. Rusia diberi pilihan untuk sumur baru, atau bekerja sama dengan Pertamina atau untuk mengelola sumur menganggur atau idle well.

“Teknologi kita itu pengeboran vertikal, mereka punya teknologi horizontal. Ini salah satu strategi yang dipakai Amerika Serikat sehingga bisa meningkatkan produksi dari tiga juta barel menjadi 10 juta barel lebih,” katanya.

Bahlil mengklaim Pertamina sebelumnya sudah mencoba teknologi pengeboran horizontal pada tiga sumur sebelumnya. “Besok kami tukar data, lokasi pasti sumur yang mana akan ada di pembahasan teknis,” ujar Bahlil.

Tawaran Rusia

Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan negaranya bersedia memperdalam hubungan dagang di sektor energi dalam bentuk pengiriman minyak mentah dan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) ke Indonesia. 

"Kami bersedia menambah pasokan minyak dan gas alam cair ke pasar Indonesia," kata Putin setelah pertemuan bilateral dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Konstantinovsky, Saint Petersburg pada Kamis (19/6), sebagaimana disiarkan oleh kanal Youtube Sekretariat Presiden.

Direktur Lembaga Intelijen Rusia atau The Federal Security Service of the Russian Federation (FSB) periode 1998 - 1999 itu juga menawarkan perluasan keterlibatan Rusia di sektor hulu migas Indonesia, terutama dalam proyek eksplorasi dan produksi migas di wilayah lepas pantai atau offshore. Lebih jauh, Putin menawarkan kerja sama investasi untuk meningkatkan produksi ladang minyak yang sudah tua atau mature fields.

"Kami bersedia untuk ikut serta dalam proyek baru di lepas landas Indonesia dan memodernisasi infrastruktur supaya mendongkrak produksi minyak dari ladang tua," ujar Putin.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani