BGN Butuh Tambahan 20 Ribu Tenaga Ahli Gizi untuk Program Makan Bergizi Gratis

ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani/rwa.
Petugas memperlihatkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat peluncuran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan Pondok Pesantren Al Amien, Kota Kediri, Jawa Timur, Senin (29/9/2025). SPPG berstandar sanitasi dan kesehatan yang baik dengan kapasitas memasak hingga 3.400 porsi per hari tersebut diluncurkan guna melayani MBG santri pondok pesantren dan pelajar sejumlah sekolah.
3/10/2025, 20.57 WIB

Badan Gizi Nasional atau BGN membutuhkan sekitar 20 ribu tenaga ahli gizi untuk penempatan di dapur satuan pelayanan pemenuhan gizi alias SPPG program makan bergizi gratis atau MBG.

Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan setiap SPPG wajib memiliki satu tenaga ahli gizi. BGN menargetkan minimal 31 ribu SPPG di seluruh Indonesia.

“Per hari ini ada 10.258 SPPG,” kata Dadan saat lewat pesan singkat WhatsApp pada Jumat (3/10).

Dadan menyampaikan mekanisme rekrutmen tenaga ahli gizi akan menyesuaikan kebutuhan masing-masing SPPG.

Proses rekrutmen tenaga ahli gizi di SPPG merupakan urusan calon mitra penyelenggara MBG. Menurut Dadan, mereka umumnya merektur ahli gizi dua bulan sebelum SPPG beroperasi. “Calon mitra biasanya merekrut ahli gizi dua bulan sebelum operasional,” ujarnya.

Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyangn sebelumnya mengatakan ada kekurangan tenaga ahli gizi untuk bekerja di unit SPPG atau dapur umum MBG.

Ia mengajak para ahli gizi berpengalaman di seluruh untuk mendaftar ke SPPG. Nanik mengatakan saat ini BGN kehabisan sumber daya yang mengerti gizi.

“Lebih senang lagi kalau yang sudah berpengalaman,” kata Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Jumat (26/9).

Kendati demikian, Nanik turut membuka peluang bagi tenaga ahli gizi lulusan baru. Hal ini juga merupakan upaya untuk menambal kekurangan sumber daya manusia (SDM) ahli gizi di proyek MBG.

Nanik optimistisnpara generasi muda cenderung lebih cepat belajar karena memiliki akses informasi yang lebih kompleks, seperti melalui media sosial. "Kalau ada salah-salah mari kita perbaiki, tapi kasih kesempatan mereka juga untuk bisa bekerja di dapur MBG, daripada menganggur,” ujarnya.

Nanik juga mengatakan ada 5.914 pemerima manfaat MBG yang mengalami keracunan sejak Januari hingga 25 September yang tersebar di 70 lokasi. Para penerima yang menjadi korban terdiri dari anak sekolah dan ibu hamil.

BGN mengidentifikasi sejumlah penyebab utama insiden tersebut, salah satunya ditemukannya Bakteri E. coli yang berasal dari air, nasi, tahu, dan ayam. Kemudian, ditemukan Staphylococcus aureus pada tempe dan bakso, dan Salmonella pada ayam, telur, dan sayuran.

BGN juga mendapati Bacillus cereus pada mie, hingga kontaminasi air yang juga memicu penyebaran bakteri Coliform, Klebsiella, Proteus hingga kandungan logam berat timbal (Pb).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu