Curhat Pedagang Sayur Terdampak Perang Irang: Pusing Harga Plastik Melonjak

ANTARA FOTO/Novrian Arbi/nym.
Ilustrasi.
Penulis: Mela Syaharani
Editor: Agustiyanti
28/3/2026, 13.02 WIB

Dampak perang Iran dengan Amerika Serikat dan Israel mulai berdampak pada pedagang kecil di Tanah Air.  Salah satunya, pedagang sayur di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Gemi (58), yang  mengeluhkan lonjakan harga plastik.

 “Semua jenis plastik harganya naik. Sekali naik harganya enam ribu satu pak (kemasa),” kata Gemi saat ditemui di Pasar Minggu, Sabtu (28/3).

Plastik digunakan Gemi untuk membungkus setiap barang yang dibeli oleh pelanggan. Gemi menyebut kenaikan harga plastik mulai dirasakannya sejak tiga hari jelang Idulfitri 2026.

Dia bercerita, biasanya membeli plastik dengan harga Rp 17 ribu per kantor. Namun kini, harganya sudah naik  menjadi Rp 23 ribu per kantong.

Dia menyebut kenaikan ini terjadi di seluruh toko penyedia plastik. Ia pun mengaku tak punya opsi selain menggunakan plastik untuk membungkus belanjaan pelanggan.

“Tidak bisa diakali. Kalau beli sedikit tidak dikasih plastik. Kalau dahulu kan masih ada koran, (harganya) murah, sekarang sudah tidak ada,” ujarnya.

Gemi menyampaikan, kenaikan harga plastik juga turut berimbas pada lonjakan harga sayur yang diperdagangkan.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengakui bahwa dirinya menerima keluhan dari banyak pedagang terkait harga plastik. Dia menyebut lonjakan ini disebabkan oleh naiknya harga bahan baku bijih plastik. 

“Naiknya luar biasa, karena bijih plastik itu kan (produk turunan) bahan bakar minyak (BBM),” kata Zulhas dalam acara Pantauan Harga Barang Kebutuhan Pokok di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Sabtu (28/3).

Salah satu bahan utama bijih plastik adalah nafta, yang merupakan produk sampingan hasil penyulingan minyak bumi mentah dengan titik didih 30°C sampai 200°C. Nafta menjadi bahan baku krusial dalam pembuatan plastik, resin, serat sintetis, dan bahan baku kimia industri lainnya. 

Hasil senyawa kimia dari nafta termasuk etilena yang digunakan dalam pembuatan kantong plastik dan kosmetik, benzena yang digunakan dalam pembuatan nilon dan sterofoam, hingga paraxylene yang digunakan dalam pembuatan botol minum (Polyethylene Terephthalate) dan PVC (Polyvinyl Chloride).

“Nanti akan kami bahas secara khusus, kami undang beberapa pihak terkait soal bijih plastik,” ujarnya.

Bahan Baku Plastik Terimbas Perang

Sejumlah perusahaan petrokimia Asia mengumumkan keadaan memaksa atau force majeure karena gangguan pasokan bahan baku nafta. Hal ini imbas perang di Timur Tengah yang memanas dan mengancam penutupan Selat Hormuz. 

Mayoritas atau 54% pasokan nafta Asia disuplai dari Timur Tengah, terutama dari Uni Emirat Arab, Qatar, dan Kuwait. Di Indonesia, raksasa petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mengumumkan force majeure pada awal Maret.

“Sebagai mitigasi, kami akan mengurangi tingkat operasional (run rates) di pabrik kami,” kata Manajemen TPIA yang dikutip Rabu, (4/3).

Perusahaan petrokimia Asia lainnya juga melakukan langkah serupa, seperti Petrochemical Corporation of Singapore dan Aster Chemicals and Energy asal Singapura, Yeochun NCC asal Korea Selatan, Siam Cement Group asal Thailand, hingga Sumitomo Chemical asal Jepang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani