Indonesia Berharap Gencatan Senjata Iran dan Amerika Berlangsung Permanen
Kementerian Luar Negeri atau Kemlu menyambut baik gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat. Pemerintah berharap perundingan yang dilakukan Tanah Persia dan Negeri Abang Sam dapat menghasilkan solusi permanen.
Juru Bicara Kemenlu Yvonne Mewengkang menilai gencatan tersebut mencerminkan adanya upaya membuka ruang diplomasi oleh Iran dan AS. Menurutnya, para pihak harus memanfaatkan momentum tersebut untuk memajukan penyelesaian damai yang berkelanjutan.
"Indonesia menegaskan pentingnya penghormatan kebebasan navigasi sebagaimana dijamin hukum internasional dalam Konvensi Hukum Laut Internasional atau UNCLOS," kata Yvonne dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (8/4).
Maka dari itu, Yvonne berharap agar Iran, Israel, dan AS menahan diri secara maksimal untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial. Menurutnya, perundingan damai harus mengutamakan dialog dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik di Asia Barat.
Imbas serangan Amerika dan Israel, Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur distribusi 20% kebutuhan minyak mentah dunia. Penyerangan Iran terhadap beberapa kapal pembawa minyak di celah tersebut membuat ratusan kapal enggan berlayar.
Karena itu, konflik tersebut juga membuat kapal milik PT Pertamina tertahan di celah tersebut selama sebulan terakhir. Yvonne tidak menjelaskan lebih lanjut terkait perkembangan negosiasi dengan Iran untuk mengeluarkan dua kapal milik Pertamina dari Selat Hormuz.
Amerika - Iran Setujui Gencatan Senjata Jelang Ultimatum Trump
Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua minggu mulai kemarin, Selasa (7/4). Persetujuan tersebut dicapai 90 menit sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald J Trump untuk melakukan serangan besar-besaran pada Iran, yakni pukul 20.00 waktu Tanah Persia.
Trump mengumumkan gencatan senjata tersebut melalui media sosial setelah didesak oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang bertindak sebagai mediator negosiasi antara AS dan Iran.
"Kami akan menghentikan pengeboman dan serangan ke Iran untuk periode dua minggu selama Iran setuju untuk membuka penuh, segera, dan aman Selat Hormuz," kata Trump seperti dilansir dari Bloomberg, Rabu (8/4).
Trump belum mempublikasikan rincian negosiasi damai yang dilakukan bersama Iran dan Pakistan. Namun mengakui telah menerima proposal 10 poin dari Iran saat ini.
Trump menilai proposal damai besutan Iran dapat menjadi basis untuk proses negosiasi lebih lanjut. Sebab, hampir seluruh poin dalam proposal tersebut telah disetujui antara Amerika Serikat dan Iran. "Periode gencatan senjata selama dua pekan akan mengizinkan sebuah perjanjian difinalisasi dan dilaksanakan," katanya.
10 Poin Permintaan Iran
Pemerintah Iran belum menerbitkan secara resmi proposal 10 poin yang dimaksud. Namun Mehr News Agency telah mempublikasikan proposal 10 poin tersebut, yakni:
- Amerika Serikat berkomitmen untuk memastikan tidak ada aksi agresi lebih lanjut;
- Iran melanjutkan kontrol terhadap Selat Hormuz;
- Penerimaan hak program pengayaan nuklir oleh Iran;
- Pengangkatan sanksi primer;
- Pengangkatan sanksi sekunder;
- Penghentian semua resolusi PBB yang melawan Iran;
- Penghentian semua resolusi Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional yang melawan Iran;
- Repatriasi seluruh kerusakan yang dialami Iran akibat perang;
- Penarikan seluruh angkatan militer Amerika Serikat dari kawasan;
- Penghentian pertempuran di semua sisi, termasuk Lebanon;
Gedung Putih melaporkan Israel telah setuju melakukan gencatan senjata saat ini. Namun pemerintah Israel belum menyatakan posisi resmi terhadap gencatan senjata maupun proposal 10 poin buatan Iran.