Serba-serbi Ketegangan Trump dan Paus Leo XIV, Seret PM Italia
Ketegangan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Paus Leo XIV belakangan meruncing dan meluas ke ranah geopolitik. Situasi semakin kompleks ketika Perdana Menteri Italia (PM), Giorgia Meloni ikut bersuara.
Polemik ini dipicu oleh kritik Paus terhadap kebijakan perang AS, khususnya terkait konflik bersenjata dengan Iran. Paus menilai aktivitas perang tidak dapat dibenarkan secara moral dan menyerukan perdamaian global.
Sebaliknya, Donald Trump merespons dengan serangan terbuka. Ia menilai paus berkewarganegaraan AS itu lemah dalam kebijakan luar negeri dan bahkan menuduhnya tidak memahami ancaman global.
Trump juga menyatakan bahwa Paus yang bernama asli Robert Prevost itu dapat memimpin Gereja Katolik karena dukungan politik dari kalangan Partai Republik.
"Jika saya tidak berada di Gedung Putih, Leo tidak akan berada di Vatikan," kata Trump di atas pesawat kepresidenan AS pada Minggu (12/4) atau Senin (13/4) WIB, dikutip dari The Guardian.
Serba-serbi konflik antara Trump dan Paus Leo sebagai berikut:
Trump Kritik Paus
Donald Trump menilai Paus Leo XIV tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan menyebutnya sebagai sosok yang sangat liberal. Trump menyampaikan kritik tersebut melalui unggahan panjang di media sosial. Ia juga kembali menegaskan pernyataan itu saat menjawab pertanyaan awak media dalam kesempatan terpisah.
"Saya bukan penggemar Paus Leo," kata Trump di atas pesawat kepresidenan AS pada Minggu (12/4) atau Senin (13/4) WIB dikutip dari The Guardian.
Komentar Donald Trump muncul setelah Paus menyatakan bahwa ‘khayalan kemahakuasaan’ telah memicu perang AS-Israel di Iran. Melalui akun Truth Social, Trump menilai Paus Leo lemah dalam menangani kejahatan dan buruk dalam kebijakan luar negeri.
Ia menyampaikan kritik tersebut sebagai respons atas sikap Paus yang secara terbuka menentang perang dan menyerukan perdamaian global. “Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa Iran boleh memiliki senjata nuklir," kata Trump.
Trump juga menyatakan dirinya tidak menginginkan seorang Paus yang menganggap langkah AS menyerang Venezuela sebagai kesalahan. Ia menilai, Venezuela adalah pemasok narkoba dalam jumlah besar ke Amerika Serikat dan menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional.
Paus Leo Tolak Perang
Paus Leo XIV beberapa kali menyuarakan penolakan terhadap perang. Ia menyampaikan pernyataan terbaru saat memimpin doa malam di St. Peter's Basilica pada Sabtu (11/4).
Paus tidak menyebut Amerika Serikat maupun Donald Trump secara langsung. Namun, nada dan pesannya mengarah pada kritik terhadap pihak-pihak yang memamerkan keunggulan militer dan membenarkan perang dengan alasan keagamaan.
“Benteng terhadap ilusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan kian menjadi tak terduga serta agresif. Bahkan Nama Suci Tuhan, Tuhan kehidupan, kini diseret ke dalam wacana kematian,” kata Paus Leo.
Perbedaan pandangan antara pemimpin Gereja Katolik dan presiden AS bukan hal baru. Meski demikian, situasi ini tergolong langka terjadi karena Paus jarang mengkritik pemimpin AS secara terbuka, begitu pula sebaliknya.
Paus menyerukan kepada para pemimpin dunia yang memilih jalan perang untuk segera menghentikan konflik. Ia menegaskan bahwa dunia saat ini membutuhkan perdamaian, bukan eskalasi kekerasan.
Paus Leo berpendapat bahwa para pemimpin seharusnya duduk di meja dialog dan mediasi, bukan di meja tempat perencanaan persenjataan dan keputusan tindakan mematikan dibuat.
“Cukup dengan penyembahan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuatan! Cukup perang! Kekuatan sejati ditunjukkan dengan melayani kehidupan,” ujarnya.
PM Italia Kritik Trump
Sikap Trump ini belakangan menyeretnya dalam konflik dengan Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni. Meloni pada awalnya mengeluarkan pernyataan yang mendukung Paus Leo XIV. Namun, ia tidak secara langsung menyinggung serangan yang dilontarkan oleh Donald Trump.
Sikap tersebut kemudian memicu kritik dari politisi oposisi yang menilai Meloni kurang tegas dalam merespons Trump. Tekanan politik itu mendorong Meloni untuk mengeluarkan pernyataan lanjutan guna memperjelas posisinya.
Dalam klarifikasinya, Meloni menganggap pernyataan Trump terhadap Paus tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan bahwa Paus sebagai pemimpin Gereja Katolik berhak menyerukan perdamaian dan mengutuk segala bentuk perang.
"Saya menganggap kata-kata Presiden Trump terhadap Bapa Suci tidak dapat diterima. Paus adalah kepala Gereja Katolik, dan adalah hal yang benar dan wajar baginya untuk menyerukan perdamaian dan mengutuk setiap bentuk perang," kata Meloni, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Senin (13/4).
Komentar ini menyeret perseteruan Meloni dengan Trump. Trump menyerang Meloni karena enggan membawa Italia bergabung dalam Perang Iran.
"Saya pikir dia berani, tetapi saya salah," kata Trump katanya dalam wawancara dengan harian Italia Corriere della Sera pada Selasa (16/4).
Meloni sebenarnya merupakan salah satu sekutu terdekat Trump di Eropa. Meski demikian, Trump mengatakan dirinya sudah lama tak berbicara dengan rekannya tersebut.
"Dia tidak ingin membantu menyingkirkan Iran yang memiliki senjata nuklir. Sangat menyedihkan..," kata Trump.