KSPI Alihkan Rencana Aksi Buruh May Day dari DPR ke Monas seusai Bertemu Prabowo
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) memutuskan untuk memindahkan lokasi aksi Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 dari depan Gedung DPR ke kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta. Keputusan itu diambil seusai mereka mengikuti pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto dua hari lalu.
Presiden KSPI yang juga Presiden Partai Buruh, Said Iqbal mengatakan, pihaknya berdiskusi sekitar 1,5 jam dengan kepala negara pada Selasa (28/4) lalu. Menurut dia, dalam pertemuan tersebut pemerintah memberikan respons atas sejumlah tuntutan buruh.
“Setelah berdiskusi langsung dengan Presiden Prabowo Subianto mengenai May Day dan masa depan Indonesia, kami memutuskan merayakan May Day di Monas bersama presiden dan elemen serikat pekerja lainnya,” ungkap Iqbal dalam keterangannya, Selasa (29/4).
Ia mengatakan, May Day yang diperingati setiap 1 Juni, bukan sekadar seremoni, melainkan momentum bagi pekerja untuk menyampaikan aspirasi kepada pemangku kebijakan. Karena itu, KSPI sebelumnya berencana menggelar aksi di DPR.
Namun, setelah mendapatkan jawaban atas beberapa isu yang disampaikan, KSPI memutuskan memindahkan titik aksi ke Monas.
Dalam agenda itu, KSPI akan mengerahkan massa sekitar 50 ribu orang. Secara keseluruhan, diperkirakan sekitar 100 ribu buruh dari berbagai organisasi pekerja hadir di Monas pada Jumat (1/6) besok.
Selain di Jakarta, peringatan May Day juga disebut akan digelar serentak di 38 provinsi dan lebih dari 350 kota.
Dalam pertemuan itu, kata Iqbal, presiden menyampaikan komitmen membentuk Satuan Tugas (Satgas) PHK dan Penciptaan Lapangan Kerja untuk merespons ancaman pemutusan hubungan kerja. Pemerintah juga disebut tengah membahas RUU Ketenagakerjaan melalui Panitia Kerja DPR dengan target penyelesaian sebelum Oktober 2026.
Sementara terkait tuntutan pekerja ojek online, pemerintah didorong ikut terlibat dalam kepemilikan platform aplikasi agar potongan tarif bisa ditekan menjadi 10%.
KSPI menyatakan akan tetap membawa 11 isu utama dalam momentum May Day 2026, yakni:
- Pengesahan RUU Ketenagakerjaan
- Hapus outsourcing dan tolak upah murah
- Antisipasi PHK akibat gejolak perang
- Reformasi pajak, termasuk kenaikan PTKP dan penghapusan pajak THR, JHT, serta pensiun
- Pengesahan RUU Perampasan Aset
- Penyelamatan industri tekstil, produk tekstil, dan nikel
- Moratorium industri semen akibat kelebihan pasokan
- Ratifikasi Konvensi ILO 90
- Penurunan potongan tarif ojol menjadi 10%
- Revisi UU Nomor 2 Tahun 2024
- Pengangkatan guru serta tenaga honorer PPPK paruh waktu menjadi penuh waktu
“Kami mengimbau seluruh buruh merayakan May Day dengan damai, antikekerasan, dan tidak anarkistis,” kata dia.