BMKG Prediksi El Nino Bertahan hingga Awal 2027, Waspadai Potensi Karhutla

ANTARA FOTO/Rahid Putra Laksana/agr/kye
Warga memanfaatkan sisa genangan air di Telaga Kedung Giriwungu yang mengering di Kapanewon Panggang, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (28/7/2026).
1/8/2026, 09.23 WIB

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena iklim El Nino bertahan hingga awal 2027 dengan puncak intensitas melebihi kuat. BMKG juga mengingatkan potensi kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, hingga risiko kesehatan yang berdampak kepada masyarakat.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan, per akhir Juni, indeks bulanan Nino 3.4 tembus angka 1,56 dan melebihi ambang batas kategori kuat. Indeks Nino 3.4 merupakan anomali suhu air laut di bagian tengah Samudra Pasifik yang digunakan untuk mengindikasikan kondisi El Nino.

Dia juga mengingatkan dampak El Nino ke Indonesia saat terjadi musim kemarau.  “Meskipun El Nino terus berlangsung hingga awal 2027, dampak utamanya fokus pada periode musim kemarau di wilayah Indonesia,” kata Ardhasena, dikutip dari keterangan resmi pada Sabtu (?).

Hasil pemantauan BMKG pertengahan Juli lalu menunjukkan bahwa 72,8 persen wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Ke depan, wilayah yang mengalami musim kemarau juga diperkirakan semakin luas.

Adapun kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia berada di angka -0,387 atau menunjukkan peluang kemunculan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara signifikan. 

Kombinasi El Nino dan IOD positif dapat memperparah dampak iklim di Indonesia, berupa penurunan curah hujan signifikan, kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga berdampak pada risiko kesehatan dan tekanan produksi pangan. 

Terkait ancaman kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, BMKG melakukan operasi modifikasi cuaca di sejumlah wilayah dengan potensi kekeringan dan karhutla tinggi. Beberapa di antaranya Sumateaa Selatan, Kalimantan Tengah, Riau, dan Jawa Barat.

“Namun, ketika kondisi cuaca tidak memungkinkan pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, pemadaman titik api di darat jadi tumpuan utama,” kata Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto. 

Para pengelola sektor kehutanan dan kebencanaan juga diminta untuk meningkatkan kesiapsiagaan atas ancaman kekeringan dan potensi terjadinya karhutla. 

Modifikasi cuaca telah dilakukan untuk pengisian waduk di Sumatera Utara, Kepulauan Riau, dan Sulawesi Tengah. BMKG menjadwalkan operasi serupa di Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum, DAS Brantas, dan DAS Mamasa.

Kekeringan Ancam Pertanian dan Kesehatan Warga

Kekeringan yang mengintai Indonesia berpotensi mengancam keberlangsungan aktivitas di sektor pertanian serta sumber daya air dan energi. BMKG Kemudian merekomendasikan para pelaku usaha pertanian untuk menyusun strategi jadwal awal musim tanam dan varietas tanaman yang tahan kondisi kering.

Pengelola sektor sumber daya air dan energi direkomendasikan untuk menghitung ketersediaan air baku, menentukan volume air bendungan, dan antisipasi dinamika produksi listrik dari pembangkit listrik tenaga air untuk mengendalikan lonjakan konsumsi energi.

Di sisi lain, penurunan curah hujan juga selaras dengan penurunan kualitas udara, sehingga meningkatkan potensi risiko penyakit ISPA di tengah masyarakat.

“Sekaligus menyiapkan mekanisme respons cepat untuk mengantisipasi potensi perubahan sebaran penyakit DBD dan malaria, serta ancaman heat-stroke akibat cuaca panas ekstrem,” tulis BMKG dalam laman resminya.

Adapun para pelaku sektor perikanan dan tambak garam direkomendasikan untuk mengoptimalkan produksi garam, serta memaksimalkan fenomena upwelling untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas