BPS Rampungkan Pengumpulan Data Produksi Padi pada Agustus

ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya
Petani melintas dilahan pertanian kawasan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (16/3). Menurut Kementerian Pertanian (Kementan) melimpahnya produksi padi di Jabar pada tahun 2016 memberikan kontribusi besar menjadikan Indonesia mengekspor beras sebanyak 43,7 persen dan tidak lagi mengimpor beras, untuk meningkatkan produksi padi jabar tahun 2017 Kementan menambah target tanam periode tanam Oktober 2016 hingga Maret 2017 menjadi 1.552.041 hektar.
Penulis: Michael Reily
Editor: Ekarina
25/5/2018, 12.49 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan peluncuran data produksi padi melalui metode Kerangka Sampel Area (KSA) masih melakukan  pengumpulan data produktivitas. Penghitungan data tersebut nantinya akan menjadi salah satu cara pemerintah untuk mengkalkulasi potensi panen dalam tiga bulan ke depan.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan pihaknya masih melakukan proses  pengumpulan data yang diperkirakan rampung pada  Agustus mendatang. “Perlu waktu sedikit lagi untuk pengumpulan,” kata dia di Jakarta, Kamis (24/5).

Suhariyanto mengatakan,  secara teknis pengukuran produktivitas dilakukan dengan cara mengumpulkan data ubinan sawah  berukuran 2,5 meter dikali 2,5 meter.  Setelah berhasil diukur, hasil panen setiap petak ubin bakal ditimbang. Data produktivitas itulah yang nantinya  bakal dikalikan dengan luas panen yang hasilnya digunakan menjadi data produksi.

(Baca : Mulai Agustus 2018, BPS Pantau Produksi Tanaman Pangan Lewat Satelit)

Dia juga mengungkapkan bahwa pihaknya sebetulnya telah menyelesaikan pembaruan data produksi dengan  periode pengukuran dari Januari hingga April 2018. Namun begitu, butuh data produksi yang lebih detail agar potensi padi bisa dihitung secara tepat.

Metode KSA diukur pada 198 ribu titik sawah pada peta daerah produsen padi. Setelah diukur,  akan ada pengecekan oleh petugas pada setiap titik guna mengetahui berhasil atau gagalnya kegiatan panen. 

(Baca  Juga: Bulog Gandeng BPS untuk Sediakan Data Produksi dan Harga Pangan)

Ke depan, BPS juga akan melakukan perhitungan data stok, selain pengumpulan data harga. “Kami akan lakukan tapi tidak dalam waktu dekat,” ujarnya.

Ketiga data yang dirilis BPS nantinya diharapkan nantinya akan menjadi data tunggal komoditas pangan khususnya  beras. Pasalnya, selama ini, perbedaan data pangan telah menjadi penyebab perdebatan antarkementerian terutama yang terkait kebijakan impor beras.