Mulai Agustus 2018, BPS Pantau Produksi Tanaman Pangan Lewat Satelit

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

20/3/2018, 17.38 WIB

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, penggunaan metode KSA bertujuan untuk memperoleh data produksi padi yang lebih akurat.

Panen Padi Donang Wahyu | KATADATA
Panen Padi Donang Wahyu | KATADATA
Panen Padi Donang Wahyu | KATADATA

Badan Pusat Statistik (BPS) siap merilis  metode Kerangka Sampel Area (KSA)  yang  berfungsi untuk memantau data produksi padi pada  Agustus mendatang. Metode pendataan berbasis teknologi ini nantinya akan  akan mencakup  192 ribu titik  pengamatan di seluruh provinsi di Indonesia dengan menggunakan satelit milik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta aplikasi perangkat lunak yang akan memantau kondisi lahan pertanian secara berkala

Kepala BPS Suhariyanto menuturkan, penggunaan metode KSA bertujuan untuk memperoleh data produksi padi yang lebih akurat.  Adapun dalam  penyusunan kerangka sampel dan sistem pelaporan yang digunakan dalam pengumpulan data statistik pertanian yang berbasis teknologi tersebut, dia mengaku pihaknya juga telah bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) .

 “Kami akan cek 192 ribu titik di tiap daerah setiap bulan,” kata Suhariyanto di Jakarta, Selasa (20/3).

(Baca : Bulog Gandeng BPS untuk Sediakan Data Produksi dan Harga Pangan)

Menurutnya,  persiapan metode KSA sudah berjalan baik, dimana program uji coba telah dilakukan pada Mei sampai Agustus 2017 di  seluruh Pulau Jawa kecuali DKI Jakarta. Sementara itu, proses pemantauan juga telah dilakukan sejak Februari 2018, setelah  pada bulan sebelumnya baru dilakukan penempatan lokasi.

“Pengecekan kami lakukan setiap akhir bulan, petugas akan berjalan setiap tanggal 23 hingga 30,” tutur Suhariyanto.

Setelah diperiksa lewat satelit, petugas akan datang ke setiap titik untuk memotret dan mengirimkan pertumbuhan tanaman lewat aplikasi yang dibuat BPS dan BPPT. Pengaturan juga dilakukan supaya petugas harus melakukan pemotretan sesuai lokasi penugasan.

Dengan begitu, metode kerangka sampel area dapat  menghitung produksi gabah nasional serta penyusutannya dalam proses produksi. Nantinya, gabah kering panen petani bakal ditelusuri ke gabah kering giling di penggilingan hingga diproses menjadi beras.  Sehingga hasil akhir BPS nantinya sudah berupa neraca beras.

Kerangka sampel area merupakan  bagian dari kerja sama BPS dengan Bulog. Sebelumnya, BPS melakukan penandatanganan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) bersama Perum Bulog terkait penyediaan data produksi dan harga pangan.

(baca juga : Bulog Salurkan 400 Ribu Ton Beras Hingga Lebaran)

Kerja sama bertujuan untuk meningkatkan kualitas data pangan guna mendukung penentuan kebijakan dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi  target ketahanan pangan nasional.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan akurasi data penting untuk menjalankan tugas Bulog terkait pengadaan komoditas untuk mewujudkan ketahanan pangan dari pemerintah, seperti beras, jagung dan kedelai sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016.

“Sesuai lingkup yang makin luas, kami perlu buat rancangan untuk setiap kegiatan secara utuh dan komprehensif dari hulu ke hilir,” kata Djarot.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha