Ia pun mengatakan telah menyampaikan protes tersebut terhadap pendiri OYO dan RedDoorz. Ia meminta, kedua operator tidak mengklaim bahwa memiliki 700 kamar di Indonesia. Padahal, beberapa akomodasi tersebut merupakan indekos.

Hengky berharap, OYO dan RedDoorz dapat mengganti nama serta target pasar untuk pencari kos-kosan. Dia menargetkan, permintaan tersebut dapat dilakukan dalam waktu dekat. "Secepatnya. Januari ini kami akan rapat lagi dengan mereka," ujar dia.

(Baca: Target Untung, Startup Asal India OYO PHK Ribuan Karyawan)

Saat ini, OYO sudah mengoperasikan sekitar 8 ribu hotel di bawah waralaba dan 800 hotel dengan model bisnis mandiri. Startup ini sudah hadir di 800 kota di 80 negara, termasuk Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, Inggris, Malaysia, Timur Tengah, Jepang dan Indonesia.

Sedangkan RedDoorz, pada Oktober tahun lalu, menyatakan sudah memiliki 1.200 penginapan dalam jaringannya. Perusahaan mencatat, pertumbuhan pesanan kamar rerata enam kali lipat secara tahunan sejak 2017.

Halaman: