Investasi Asing ke Pindar Lokal Melonjak saat Industri Dibayangi Risiko Kredit

Katadata/Fauza Syahputra
Ilustrasi pinjaman online (pinjol)
10/8/2026, 12.29 WIB

Pendanaan dari lender luar negeri ke industri pinjaman daring (pindar) Indonesia mencapai Rp17,28 triliun pada Juni 2026, melonjak 34,18% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

 

 

Agusman, Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, mengatakan kenaikan ini menunjukkan industri pindar Indonesia memiliki daya tarik tinggi bagi investor asing.  

"Daya tarik tersebut antara lain didukung oleh potensi imbal hasil yang relatif kompetitif,” kata Agusman dalam dokumen jawaban tertulis RDKB OJK Juli 2026, dikutip Senin (10/8). 

Namun, peningkatan pendanaan asing ini berlangsung ketika industri Pindar masih menghadapi persoalan kualitas pembiayaan. Pada Juni 2026, OJK mencatat masih terdapat 16 penyelenggara Pindar dengan TWP90 di atas 5%, meski jumlah tersebut turun dari 18 penyelenggara pada Mei.

Mayoritas penyelenggara dengan tingkat TWP90 di atas 5% tersebut memiliki karakteristik pendanaan produktif. Agusman mengatakan OJK telah meminta penyelenggara terkait melakukan langkah perbaikan dan meningkatkan pengawasan.

“Ini termasuk menetapkan sebagian penyelenggara dalam status pengawasan intensif atau khususus sesuai ketentuan,” ujarnya. 

Imbal Hasil Tinggi vs Risiko Kredit

Fenomena ini memperlihatkan dua sisi industri Pindar yang berjalan bersamaan. Di satu sisi, risiko kredit masih menjadi perhatian regulator. Di sisi lain, investor asing justru meningkatkan eksposurnya terhadap industri tersebut.

Bahkan, OJK mencatat laba industri pindar pada Juni 2026 tercatat Rp 1,15 triliun, tumbuh 10,14% yoy. Agusman menyebut tingkat pembiayaan bermasalah memang dapat memberikan tekanan terhadap profitabilitas, tetapi hingga Juni industri pindar masih mampu mencatat pertumbuhan laba seiring pertumbuhan penyaluran pendanaan. 

“Peluang industri pindar untuk melampaui capaian laba tahun 2025 masih terbuka, didukung antara lain oleh pertumbuhan penyaluran pendanaan, penguatan manajemen risiko, dan peningkatan kualitas credit scoring,”  kata Agusman.

Dengan demikian, kenaikan pendanaan asing tidak semata-mata menunjukkan bahwa investor melihat industri pindar sebagai sektor tanpa risiko. Sebab, data OJK menunjukkan adanya ruang bagi investor untuk mengejar imbal hasil yang dinilai kompetitif, dengan risiko kredit sebagai konsekuensi yang perlu dikelola.

Di sisi lain, tingginya pendanaan asing juga menunjukkan pentingnya kemampuan industri menjaga kualitas aset. OJK menyebut TWP90 dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kemampuan bayar debitur dan kualitas penerapan manajemen risiko.

“Penyelenggara terus didorong untuk memperkuat credit scoring dan pengelolaan risiko dalam penyaluran pendanaan,” katanya.

Dana asing juga mengalir ketika pindar semakin diarahkan untuk memperkuat pembiayaan produktif. Agusman mengatakan, pada Juni 2026, outstanding pendanaan pindar kepada sektor UMKM mencapai Rp 35,12 triliun, atau sekitar 33,41% dari total outstanding pendanaan.

Segmen produktif memang menawarkan peluang pertumbuhan, tetapi sekaligus membawa risiko yang perlu diperhitungkan lender. OJK mencatat sebagian besar penyelenggara dengan TWP90 di atas 5% justru memiliki karakteristik pendanaan produktif.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Entjik S Djafar pendanaan industri pindah ke sektor produktif dan UMKM mengindikasikan bahwa porsi pendanaan pindar telah diarahkan langsung ke sektor usaha, terutama UMKM yang selama ini menghadapi hambatan struktural dalam memperoleh akses kredit dari lembaga perbankan konvensional.

Entjik menilai pemanfaat teknologi terbukti dapat memperluas jangkauan pindar ke segmen usaha yang sebelumnya kurang terlayani. “Pindar hari ini berfungsi sebagai jembatan pembiayaan produktif bagi UMKM yang belum sepenuhnya terlayani perbankan. Data menunjukkan dana yang disalurkan bukan hanya menopang arus kas, tetapi juga mendorong ekspansi usaha, peningkatan kapasitas produksi, dan pembukaan pasar baru,” kata Entjik.

Riset terbaru Katadata Insight Center terhadap ratusan pelaku UMKM menunjukkan bahwa pembiayaan pindar bukan hanya membantu menutup kesenjangan akses modal, melainkan juga memicu multiplier effect terhadap aktivitas ekonomi riil di tingkat pelaku usaha.

Dari sisi penggunaan dana, hasil survei terhadap 309 pelaku UMKM penerima pendanaan pindar memperlihatkan bahwa mayoritas pinjaman dialokasikan untuk kebutuhan inti bisnis yang meliputi untuk:

  • Pembelian bahan baku 16,9%
  • Ekspansi usaha 11,3%
  • Menutup biaya operasional 11,2%
  • Pembayaran kepada pemasok 10,9%
  • Pembelian alat produksi 10,6%
  • Pembelian aset kendaraan 6.4%
  • Perluasan gudang 5,7%
  • Pemasaran 5,6%
  • Peningkatan tenaga kerja 5,4%
  • Investasi produk 4%
  • Biaya administrasi 3,7%
  • Biaya pelatihan 3,7%

“Pola ini menunjukkan bahwa pendanaan pindar tidak hanya dipakai untuk menutup kebutuhan likuiditas jangka pendek, tetapi juga mendukung investasi kapasitas usaha,” kata Entjik. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti