Hasil riset industri pindar oleh AFPI dan Katadata Insight Center menunjukkan, sebanyak 18,9% penduduk Indonesia masih kesulitan mengakses fisik ke lembaga keuangan.
Banyak peminjam tidak membaca rincian kontrak dengan seksama karena mereka dihadapkan pada situasi mendesak sehingga terjebak skema tadpole atau pinjaman dengan cicilan yang besar di awal.
“Gen Z dan milenial memiliki tingkat adopsi layanan digital yang sangat tinggi, namun pada saat yang sama mereka juga menjadi kelompok yang paling rentan terhadap miskonsepsi pinjaman daring.
Industri pinjaman daring atau yang dikenal dengan pinjol alias pinjaman online diwarnai dengan dugaan fraud, tutup bisnis hingga kredit macet yang melonjak.
Skema tadpole adalah pola cicilan pinjaman daring dengan beban pembayaran sangat besar di awal baik melalui cicilan tidak merata, interval pembayaran dipercepat, maupun pencairan dana yang tidak utuh.
Industri fintech Indonesia sepanjang 2025 bergerak dalam lanskap yang semakin kompleks. Di satu sisi, inovasi teknologi terus memperluas akses layanan keuangan, mendorong inklusi
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) kini membatasi skema tadpole yang hanya boleh diterapkan oleh platform pinjaman daring (pindar) selama memenuhi batas manfaat ekonomi, transparan, dan menjaga TWP <5%.
Skema tadpole pada pindar menggerus pelindungan konsumen. Di balik pencairan cepat, peminjam dibebani cicilan besar di awal yang meningkatkan risiko gagal bayar sejak awal tenor.
Skema tadpole dalam pinjaman daring kian meresahkan karena membebani cicilan di awal tenor, menekan arus kas rumah tangga, dan meningkatkan risiko gagal bayar bagi kelompok rentan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan industri pinjaman daring (pindar) bertumbuh 23,86% sejak Januari hingga Oktober 2025. Outstanding pembiayaan tercatat mencapai Rp 92,92 triliun.
Pindar kian krusial dalam mendorong inklusi keuangan. Namun, pertumbuhannya dibayangi beberasapa risiko, termasuk skema tadpole, sehingga menuntut pengawasan dan regulasi yang lebih kuat.
Cicil menyalurkan pendanaan Rp 1,67 triliun kepada 200 lebih borrower selama Januari – Oktober. Startup pinjaman daring alias pindar ini sebelumnya menyediakan pinjaman untuk pendidikan.