Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi melakukan investigasi terkait cuplikan gameplay sejumlah game besar yang belum dirilis, beredar luas di internet diduga imbas sistem Indonesia Game Rating System (IGRS). Pelaku industri gim nasional buka suara terkait hal ini.
Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Shafiq Husein menilai investigasi investigasi kebocoran sistem IGRS dapat membuka pintu komunikasi dengan Kementerian Komdigi.
“Ini memastikan bahwa regulasi yang dibuat juga berpihak terhadap para pelaku industri gim Indonesia,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4).
Dengan adanya kasus tersebut, Shafiq berharap industri gim di Indonesia bisa lebih maju.
Sementara itu, CEO sekaligus pendiri Gamecom Team Reza Febri Nanda tidak ingin polemik IGRS ini berdampak negatif terhadap pelaku industri gim.
"Semoga teman-teman calon-calon pelaku industri, terutama industri gim Indonesia, tidak takut untuk menjadi developer game atau mungkin pelaku industri kreatif lainnya, karena kami juga akan memperbaiki semuanya,” katanya dalam kesempatan yang sama.
Pengembang gim sekaligus pendiri Arsanesia, Adam Ardisasmita memastikan akan mengawali polemik IGRS hingga selesai. “Saya akan memperbarui informasi kepada teman-teman di ekosistem apa yang terjadi, apa yang perlu diperbaiki, dan kami memastikan semua sesuai dengan kebutuhan teman-teman di industri,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Sonny Hendra Sudaryana mengatakan selama proses investigasi berjalan tidak ada gim yang diblokir. Hal ini meskipun proses rating IGRS juga tengah ditutup sementara.
"Tetap bisa main, nggak ada yang diblokir gimnya. Nggaka da dari awal pun seperti itu karena pemblokiran itu mekanismenya berbeda," kata Sonny.
Kementerian Komdigi sudah melakukan investigasi sejak 8 April 2026. Sonny mengatakan investigasi dan evaluasi dilakukan secara menyeluruh. Hal ini baik dari sisi sistem, proses, maupun penguatan tata kelola, organisasi, dan sumber daya manusianya.
“Untuk menghindari asumsi-asumsi yang tersebar di media sosial, jadi proses sekarang dalam proses investigasi secara keseluruhan, baik dari sisi kebijakan, sistem, dan proses, ataupun tools dan metodologinya, sampai ke organisasi dan sumber daya manusianya-nya,” kata Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Direktorat Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Sonny Hendra Sudaryana dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (17/4).
Dari hasil investigasi ini, Kementerian Komdigi akan melakukan perubahan sesuai saran dan perbaikan yang dihasilkan. Sonny mengatakan hal itu termasuk implementasi strategi IGRS ke depan.