Menteri Komdigi Minta Publik Tak Sebar Konten Sensitif Kecelakaan KRL di Bekasi

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menyampaikan keterangan pers di kantor Kemkomdigi, Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Penulis: Rahayu Subekti
28/4/2026, 18.44 WIB

Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid meminta publik tidak menyebar konten sensitif berkaitan dengan kecelakaan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line yang terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam. Meutya mengatakan, kejadian tersebut sudah menjadi musibah yang berat bagi korban dan keluarga.

“Ini musibah sudah sangat menyesakkan ya, baik bagi keluarga korban maupun juga ya kita semua. Jadi tentu kita mengimbau betul tidak ada yang memanfaatkan peristiwa musibah seperti ini, apalagi untuk menyebarkan hoaks atau berita tidak benar,” kata Meutya saat ditemui di Gedung Kementerian Komdigi, Selasa (28/4).

Tak hanya itu, jika terdapat informasi mengenai kecelakaan yang berulang juga memberikan trauma psikis. Terutama bagi korban dan keluarga. Terlebih masih ada korban yang saat ini masih ditangani di rumah sakit.

Karena itu, Meutya mengimbau agar penayangan dari peristiwa-peristiwa kecelakaan kereta api yang berlebihna tidak
disebarkan secara tidak bertanggung jawab. “Karena kita harus menghormati perasaan dari para korban dan juga keluarga,” ujarnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan adanya sensor atau intervensi khusus dari pemerintah, Meutya menjelaskan bahwa pihaknya tengah melakukan diskusi internal dengan Direktorat Jenderal terkait untuk langkah penanganan teknis. Namun, ia lebih menekankan pada kesadaran kolektif masyarakat dibandingkan tindakan represif digital.

“Kita sedang diskusi dengan Pak Dirjen kalau memang ada kira-kira
yang perlu kita lakukan penanganan, kita akan lakukan penanganan. Tapi pada semangatnya, kita ingin masyarakatnya juga untuk tidak melakukan itu,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat tidak perlu menyebarkan informasi terkait kecelakaan tersebut secara berlebihan. Apalagi menyebarkan informasi yang salah atau hoaks.

Kecelakaan kereta api antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek menimbulkan korban jiwa dan gangguan besar terhadap operasional kereta api. Korban meninggal dunia tercatat 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.

Tim gabungan Basarnas, PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta sejumlah instansi terkait masih melakukan proses evakuasi dan penanganan di lokasi kejadian.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan seluruh korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, korban luka dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi dan sekitarnya.

Rumah sakit yang menangani korban antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti