Target Ekonomi Tumbuh 8% pada 2029, Pemerintah Dorong AI Dongkrak Produktivitas
Pemerintah mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi nasional. Pengembangan AI dinilai dapat menjadi salah satu mesin pertumbuhan baru untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8% pada 2029.
Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid mengatakan pemanfaatan teknologi digital semakin penting untuk mencapai target tersebut. Indonesia membutuhkan peningkatan produktivitas, efisiensi investasi, dan daya saing agar pertumbuhan ekonomi dapat terus dipacu.
Menurutnya, teknologi digital tidak boleh berhenti pada peningkatan aktivitas digital masyarakat. Ekosistem digital harus mampu menghasilkan produktivitas, inovasi, lapangan kerja berkualitas, serta memperkuat kemampuan teknologi nasional.
“Pengembangan AI tidak dapat hanya mengandalkan kemampuan untuk mengadopsi teknologi yang dikembangkan negara lain,” kata Meutya dalam pernyataan tertulisnya, Kamis (13/8).
Ia mengatakan Indonesia perlu membangun kemampuan sendiri melalui riset, pengembangan talenta, kapasitas komputasi, dan inovasi. Dengan demikian, teknologi AI yang tersedia dapat menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Potensi ekonomi digital Indonesia juga dinilai semakin besar. Meutya mengutip laporan e-Conomy SEA 2025 yang mencatat nilai ekonomi digital Indonesia mencapai US$ 99 miliar atau Rp 1.770,3 triliun (kurs Rp 17.882 per dolar AS) pada 2025, Angka ini diproyeksikan meningkat menjadi US$ 340 miliar atau Rp 6.079,8 triliun pada 2030.
Pemerintah juga menargetkan ekonomi digital dapat memberikan kontribusi sebesar 19% terhadap produk domestik bruto atau PDB pada 2045.
Namun, Meutya menilai besarnya aktivitas ekonomi digital belum cukup. Pemerintah perlu memastikan perkembangan tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan produktivitas dan kemampuan teknologi nasional.
Karena itu, Kementerian Komdigi mengarahkan transformasi digital melalui tiga agenda, yakni Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga. Agenda tersebut mencakup penguatan konektivitas, pusat data, layanan komputasi awan (cloud), dan kapasitas komputasi yang harus berjalan bersama dengan peningkatan produktivitas dan inovasi. Pada saat yang sama, pemerintah juga menekankan perlindungan data, keamanan sistem, serta kepercayaan publik.
Menyiapkan Talenta AI
Dalam upaya memperkuat ekosistem AI nasional, Kementerian Komdigi juga mengembangkan Indonesia AI Center of Excellence. NVAITC Joint Center menjadi salah satu bagian dari inisiatif tersebut dengan mempertemukan perguruan tinggi, industri, mitra teknologi, dan pemerintah.
Pusat tersebut juga didukung fasilitas GPU Merdeka yang memungkinkan mahasiswa dan peneliti memperoleh akses komputasi berperforma tinggi melalui skema GPU-as-a-Service.
Meutya mengatakan kapasitas teknologi tersebut harus diikuti dengan pengembangan sumber daya manusia. Sebab, investasi teknologi tidak akan memberikan nilai tambah optimal tanpa talenta yang mampu mengembangkan dan menggunakannya.
Kementerian Komdigi bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) untuk menyiapkan praktisi AI dan spesialis di bidang AI (AI Practitioner and AI Specialist). Program tersebut menggunakan studi kasus dunia nyata dengan pendampingan akademisi internasional dan praktisi industri.
Peluncuran angkatan kedua AITF juga dilakukan bersamaan dengan peresmian NVAITC Joint Center.
Talenta yang dikembangkan diarahkan untuk menghasilkan solusi atas berbagai persoalan nasional. Sejumlah proyek yang dikembangkan antara lain Tech4Disaster untuk mitigasi bencana, SmartAgri untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan efisiensi irigasi, serta e-Nose TB untuk membantu skrining tuberkulosis secara non-invasif.
Indonesia Ingin Membangun Kedaulatan AI
Menurut Meutya, pengembangan tersebut menunjukkan bahwa talenta Indonesia tidak hanya perlu menjadi pengguna teknologi global, tetapi juga harus mampu menciptakan solusi yang dapat digunakan di dalam negeri maupun memenuhi standar global.
Di sisi lain, Meutya menegaskan upaya membangun kedaulatan AI bukan berarti Indonesia harus mengembangkan seluruh teknologi secara mandiri atau menutup diri dari teknologi global.
Kolaborasi dengan perusahaan dan mitra teknologi global tetap dibutuhkan, sepanjang kerja sama tersebut dapat memperkuat kemampuan dan kepentingan nasional.
Ia berharap NVAITC Joint Center tidak berhenti sebagai fasilitas teknologi. Pusat tersebut diharapkan menghasilkan talenta AI yang kompeten, riset terapan, solusi yang digunakan masyarakat dan industri, serta inovasi dan kekayaan intelektual yang dikembangkan di Indonesia.