Cakupan internet 5G di Indonesia baru mencapai 10% populasi pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi 32% pada 2030, berdasarkan laporan GSMA. Untuk menutup celah jaringan di wilayah yang sulit dijangkau infrastruktur terestrial, GSMA melihat teknologi satelit dan non-terrestrial networks (NTN) dapat memainkan peran penting.

Di sisi koneksi, 5G baru menyumbang 4% dari total koneksi Indonesia pada 2025. Porsinya diproyeksikan meningkat menjadi 27% pada 2030.



Data tersebut menunjukkan masih terdapat ruang yang besar untuk memperluas jaringan sekaligus meningkatkan penggunaan 5G di Indonesia.

Kepala Asia Pasifik GSMA Julian Gorman mengatakan, perkembangan konektivitas ke depan tidak hanya bergantung pada jaringan terestrial. Teknologi satelit dapat menjadi pelengkap untuk menyediakan konektivitas di area yang sulit dijangkau infrastruktur jaringan konvensional.

Menurut Julian, konektivitas hibrida menjadi semakin penting, termasuk dengan memanfaatkan satelit dan teknologi jaringan non-terestrial.

Hal itu juga terlihat dari perkembangan di Indonesia. Dalam paparan GSMA, Telkomsat disebut tengah mengeksplorasi layanan direct-to-device (D2D) berbasis satelit, sementara Telkomsel sedang mengembangkan konektivitas melalui platform di ketinggian tinggi atau high-altitude platform.

Penggunaan satelit tidak diposisikan sebagai pengganti jaringan seluler terestrial, melainkan sebagai pelengkap untuk memperluas jangkauan konektivitas.

Julian mengatakan teknologi seperti D2D dan NTN dapat membantu menyediakan konektivitas di wilayah yang tidak mudah dijangkau infrastruktur terestrial. Teknologi ini juga relevan untuk wilayah terpencil maupun aktivitas di laut.

Bagi Indonesia, pendekatan itu menjadi relevan karena karakter geografis negara yang terdiri dari banyak pulau. Pembangunan jaringan terestrial di seluruh wilayah membutuhkan infrastruktur yang tidak selalu mudah dibangun di daerah dengan kondisi geografis tertentu.

Oleh karena itu, kombinasi antara jaringan terestrial, satelit, dan teknologi konektivitas lainnya dapat memperluas akses tanpa sepenuhnya bergantung pada pembangunan menara telekomunikasi.

Dalam konteks tersebut, GSMA juga melihat hybrid connectivity sebagai salah satu dari tiga tren utama yang membentuk industri seluler. Fokus industri tidak lagi hanya memperluas cakupan, tetapi juga memastikan konektivitas tetap tersedia melalui diversifikasi jaringan dan peningkatan ketahanan infrastruktur.

Kesenjangan Akses Internet di Indonesia Tinggal 2%

Julian mengatakan perkembangan 5G Indonesia akan sangat dipengaruhi kebijakan, regulasi, dan investasi. Menurut dia, ketiga faktor ini dapat mengubah tingkat adopsi secara signifikan.

Indonesia juga dinilai telah mulai mengembangkan berbagai inovasi berbasis 5G. Julian mencontohkan penggunaan 5G pada sektor seperti pabrik, pelabuhan, dan bandara yang mulai menghasilkan dampak terukur.

Menurutnya, Indonesia perlu terus mengembangkan use case 5G yang sesuai dengan kebutuhan domestik. Dengan begitu, 5G tidak hanya menjadi infrastruktur konektivitas, tetapi juga dapat menghasilkan nilai ekonomi.

Di sisi lain, GSMA melihat persoalan konektivitas Indonesia bukan hanya mengenai cakupan jaringan. Kepala Public Policy and External Affairs APAC GSMA, Jeanette Whyte, mengatakan Indonesia memiliki coverage gap atau kesenjangan jangkauan internet sekitar 2%, sementara usage gap alias kesenjangan penggunaan mencapai 21%.

Artinya, persoalan yang harus diselesaikan Indonesia bukan hanya membawa jaringan ke wilayah yang belum terjangkau, tetapi juga memastikan masyarakat yang sudah berada dalam jangkauan jaringan benar-benar menggunakan layanan internet.

Jeanette menyebut penutupan usage gap sebagai salah satu isu yang paling mendesak agar Indonesia tidak kehilangan manfaat ekonomi dari konektivitas digital. Data GSMA menunjukkan 77% orang dewasa di Indonesia telah menggunakan internet. Sementara itu, masih terdapat 21% usage gap dan 2% coverage gap.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa perluasan jaringan dan peningkatan penggunaan internet harus berjalan beriringan.

Internet Harus Tahan Gangguan

Selain memperluas coverage, GSMA menilai ketahanan jaringan menjadi semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam paparan GSMA, network resilience disebut sebagai salah satu tren utama industri seluler. Fokus operator mulai bergeser dari sekadar memperluas jaringan menuju memastikan kontinuitas konektivitas melalui ketahanan energi, diversifikasi, dan konektivitas hibrida.

Jaringan seluler juga dipandang sebagai infrastruktur penting untuk keselamatan publik, termasuk mendukung manajemen bencana dan respons keadaan darurat.

Julian sebelumnya menekankan pentingnya konektivitas tetap tersedia ketika terjadi gangguan terhadap infrastruktur. Oleh karena itu, diversifikasi melalui teknologi seperti satelit dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan ketahanan jaringan.

Dengan cakupan 5G yang baru mencapai 10% populasi pada 2025 dan target 32% pada 2030, Indonesia masih memiliki pekerjaan besar dalam memperluas jaringan.

Namun, menurut pandangan Julian dan Jeanette, agenda konektivitas Indonesia tidak berhenti pada pembangunan jaringan. Indonesia perlu menutup coverage gap, mengurangi usage gap, memperluas penggunaan 5G untuk kebutuhan ekonomi, sekaligus memanfaatkan konektivitas hibrida seperti satelit untuk menjangkau wilayah yang sulit terlayani jaringan terestrial.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.