AI Bikin Serangan Siber Makin Cepat, Sistem Keuangan Global Mulai Waspada

Gemini, Katadata/Desy Setyowati
Ilustrasi pertemuan regulator keuangan dunia membahas AI Mythos
Penulis: Desy Setyowati
2/9/2026, 07.59 WIB

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) generasi terbaru mulai memicu kekhawatiran terhadap keamanan sistem keuangan global. Kemampuan AI untuk menemukan dan mengeksploitasi kerentanan siber dengan kecepatan tinggi dinilai dapat mengubah skala dan karakter serangan terhadap jaringan keuangan yang saling terhubung.

Ketua Financial Stability Board (FSB) Andrew Bailey mengatakan risiko siber yang berkaitan dengan AI menjadi “kekhawatiran paling mendesak” bagi sistem keuangan global. 

Peringatan tersebut disampaikan Bailey dalam surat kepada para menteri keuangan dan gubernur bank sentral negara-negara G20 menjelang pertemuan mereka di Asheville, North Carolina.

Bailey yang juga menjabat sebagai Gubernur Bank of England mengatakan, risiko dari model AI canggih tidak mengenal batas negara. Menurutnya, potensi model akal imitasi untuk melakukan serangan siber perlu menjadi perhatian serius karena jaringan keuangan global sangat saling terhubung.

“Risiko yang terkait dengan AI mutakhir tidak akan menghormati batas negara,” tulis Bailey dalam surat tersebut, seperti dikutip CNN Internasional, Selasa (1/9).

Bailey menilai AI dapat mengubah kecepatan, skala, dan ekonomi suatu serangan siber. Perkembangan teknologi ini memungkinkan kerentanan ditemukan lebih cepat, sehingga perusahaan harus mampu melakukan penambalan sistem dengan lebih cepat pula.

Persoalannya, kesiapan sistem keamanan belum tentu mampu mengikuti perkembangan tersebut.

Dalam surat yang sama, Bailey mengatakan masih banyak negara yang belum memiliki sistem yang memadai untuk mengelola penerapan model AI tingkat lanjut. Ia menilai perkembangan kemampuan AI harus diimbangi dengan ketahanan dan kesiapan untuk menghadapi risiko yang ditimbulkannya.

Bailey juga menyoroti ketergantungan sektor keuangan terhadap segelintir penyedia teknologi besar. Menurut dia, konsentrasi ketergantungan tersebut dapat merusak kepercayaan pasar secara sistemik jika terjadi gangguan pada penyedia teknologi yang digunakan secara luas.

Reuters menyebut peringatan Bailey muncul di tengah kekhawatiran regulator bahwa AI tingkat lanjut dapat mempercepat penemuan kerentanan siber.

Kondisi itu berpotensi memaksa perusahaan melakukan penambalan sistem dengan lebih cepat sekaligus menghadirkan tantangan operasional apabila kemampuan pengujian dan pemulihan sistem tidak dapat beradaptasi dengan aman.

Pada Juli 2026, OpenAI mengatakan salah satu agen AI-nya berhasil keluar dari lingkungan pengujian terkontrol dan meretas perusahaan AI Hugging Face.

Selain itu, Institut Keamanan AI Inggris menemukan model AI tercanggih Anthropic menggunakan identitas palsu untuk menutupi jejaknya dan mencoba menanamkan kode berbahaya selama pengujian.

Anthropic mengatakan pengujian tersebut dilakukan dalam kondisi yang sengaja dibuat permisif dan tanpa batasan khusus mengenai bagaimana model dapat menggunakan internet.

Perkembangan itu membuat persoalan AI tidak lagi sebatas bagaimana teknologi dapat meningkatkan produktivitas atau membantu pekerjaan manusia. Kemampuan AI untuk melakukan aktivitas secara semakin mandiri juga menimbulkan pertanyaan mengenai apakah mekanisme pengamanan yang ada mampu mengikuti perkembangan kemampuannya.

Infrastruktur Siber Ikut Tertekan

Kekhawatiran serupa datang dari industri keamanan siber. Dalam wawancara dengan CNBC Internasional, CEO Palo Alto Networks Nikesh Arora mengatakan AI memaksa perusahaan untuk memikirkan kembali infrastruktur keamanan siber yang telah dibangun sebelum era akal imitasi.

Arora memperkirakan terdapat sekitar US$ 1 triliun “utang” infrastruktur keamanan siber global yang perlu dimodernisasi untuk menghadapi ancaman otomatis yang beroperasi secara instan.

“Tidak ada satu pun yang diterapkan tujuh atau 10 tahun lalu yang siap atau mampu menangani AI dengan kecepatan mesin,” kata Arora dikutip dari CNBC Internasional.

Menurut dia, perusahaan perlu memikirkan kembali arsitektur keamanan sibernya. Sebab, AI memungkinkan kerentanan ditemukan dan dieksploitasi lebih cepat dibandingkan sebelumnya.

Arora menekankan perusahaan tidak dapat menerapkan AI dengan sukses apabila keamanan sibernya tidak disiapkan dengan benar.

Palo Alto Networks melihat perubahan itu sebagai peluang besar bagi industri keamanan siber. Palo Alto telah berbicara dengan sekitar 2.000 perusahaan mengenai Critical AI Frontier Defense Program.

Program tersebut menggunakan model AI canggih untuk menguji pertahanan pelanggan, mengidentifikasi kerentanan, serta membantu perusahaan memodernisasi infrastruktur keamanan mereka. Palo Alto Networks secara resmi memperkenalkan inisiatif tersebut pada Agustus.

Menurut Arora, ancaman AI telah mengubah cara investor memandang industri keamanan siber. Pada awal tahun, terdapat kekhawatiran bahwa model AI yang semakin canggih justru akan mengganggu bisnis perangkat lunak keamanan tradisional.

Namun, pandangan tersebut berubah ketika semakin jelas bahwa teknologi yang sama dapat digunakan oleh penyerang.

Arora menyebut kemunculan model Mythos dari Anthropic sebagai salah satu titik balik. Menurut dia, kemampuan model tersebut membuat perusahaan semakin serius memperhatikan keamanan siber karena AI dapat digunakan untuk mengeksploitasi kerentanan perangkat lunak.

Saham Palo Alto Networks telah melonjak 113% sejak 7 April. Sebelumnya, saham perusahaan tersebut berada di zona merah sepanjang 2026.

“Sepertinya kita harus berpesta dengan mereka,” kata Arora, menggambarkan perubahan pandangan perusahaan keamanan siber terhadap AI.

Meski demikian, Arora mengingatkan investasi untuk memodernisasi keamanan siber tidak akan terjadi sekaligus. Namun, menurut dia, AI telah mengubah tingkat pertumbuhan jangka panjang dan memperpanjang peluang industri keamanan siber.

Dengan jaringan keuangan yang saling terhubung lintas-negara dan AI yang mampu bekerja dengan kecepatan mesin, regulator dan perusahaan kini menghadapi persoalan yang sama: memastikan pertahanan dapat bergerak setidaknya secepat ancaman yang mereka hadapi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Dalam rangka mendukung kampanye penyelenggaraan G20 di Indonesia, Katadata menyajikan beragam konten informatif terkait berbagai aktivitas dan agenda G20 hingga berpuncak pada KTT G20 November 2022 nanti. Simak rangkaian lengkapnya di sini.