RI Gandeng Irlandia Garap AI hingga Energi Bersih, Google-Microsoft Jadi Target
Pemerintah Indonesia memperkuat kerja sama ekonomi dengan Irlandia. Pemerintah membidik sejumlah sektor strategis, di antaranya teknologi digital, akal imitasi (AI), energi terbarukan, teknologi bersih, hingga industri farmasi.
Deputi Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Edi Prio Pambudi, mengatakan sektor-sektor tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam dialog strategis Indonesia-Irlandia.
“Irlandia telah lama dikenal sebagai salah satu pusat teknologi digital terkemuka di Eropa dan menjadi basis regional bagi berbagai perusahaan teknologi global termasuk Google, Meta, Microsoft,” kata Edi dalam konferensi pers, di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (4/9).
Selain teknologi digital dan AI, kedua negara membahas peluang kerja sama di bidang energi terbarukan dan teknologi bersih, pembiayaan berkelanjutan, agrifood dan nutrisi, farmasi dan layanan kesehatan, serta penerbangan dan jasa terkait.
Edi mengatakan, Irlandia memiliki keunggulan dalam teknologi, keahlian, serta jejaring bisnis internasional. Sementara itu, Indonesia memiliki pasar yang besar dan terus berkembang serta kapasitas industri yang semakin kuat.
“Indonesia menawarkan pasar yang besar dan terus berkembang, kapasitas industri yang semakin kuat, serta berbagai peluang investasi. Sementara itu, Irlandia memiliki keunggulan dalam teknologi, keahlian, serta jejaring bisnis internasional yang dapat memberikan nilai tambah bagi kerja sama kedua negara,” katanya.
Edi menyebut, potensi kerja sama tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan perdagangan. Pemerintah juga mengincar investasi, inovasi, penciptaan lapangan kerja, dan transfer teknologi dari kerja sama dengan Irlandia.
Bukan Hanya Kerja Sama Perdagangan
“Pada akhirnya, kami ingin agar hubungan ekonomi Indonesia dan Irlandia tidak hanya diukur dari nilai perdagangan, tapi juga dari kualitas investasi, inovasi, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, serta peluang yang tercipta bagi masyarakat kedua negara,” kata dia.
Di sisi lain, Edi menuturkan, penguatan kerja sama ini berlangsung di tengah hubungan perdagangan bilateral yang terus berkembang. Adapun, total perdagangan Indonesia dan Irlandia mencapai US$ 228,6 juta pada 2025. Sementara itu, sepanjang Januari-Juli 2026, nilai perdagangan kedua negara mencapai US$ 145,5 juta.
Edi menilai, angka perdagangan tersebut baru mencerminkan sebagian kecil dari potensi hubungan ekonomi kedua negara.
Selain itu, Indonesia dan Irlandia juga menandatangani Letter of Intent (LoI) tentang pengembangan kerja sama ekonomi dan bisnis.
LoI tersebut menjadi fondasi untuk menerjemahkan berbagai prioritas bersama menjadi kerja sama yang lebih konkret antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi terkait di kedua negara.
Di sisi lain, Edi melihat posisi Irlandia sebagai pemegang presidensi Dewan Uni Eropa pada 1 Juli-31 Desember 2026 dapat menjadi momentum untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Irlandia sekaligus memperdalam keterlibatan Indonesia dengan Uni Eropa secara lebih luas.
“Kami ingin agar hubungan ekonomi Indonesia dan Irlandia tidak hanya diukur dari nilai perdagangan, tapi juga dari kualitas investasi, inovasi, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, serta peluang yang tercipta bagi masyarakat kedua negara,” kata Edi.