Trump Tolak Rem Pengembangan AI, Khawatir Cina Diuntungkan

Youtube/White House
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak seruan untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan alias AI dan pembangunan data center.
Penulis: Rahayu Subekti
15/9/2026, 10.58 WIB

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak seruan untuk memperlambat pengembangan kecerdasan buatan alias AI dan pembangunan data center. Trump justru memperingatkan bahwa pihak yang menentang perkembangan AI dan infrastruktur pendukungnya berpotensi menguntungkan Cina.

Sikap tersebut kembali ditegaskan Trump saat CEO Nvidia Jensen Huang tengah berbicara dalam acara All-In Summit di Los Angeles, Senin (14/9). Trump menelepon Huang , CEO Nvidia itu kemudian menyalakan pengeras suara agar percakapan tersebut dapat didengar oleh peserta acara.

Dalam percakapan sekitar lima menit itu, Trump menyebut penolakan terhadap pembangunan data center sebagai sebuah hoaks. “Percayalah, itu semua cuma tipuan,” kata Trump, dikutip CNBC Internasional, Selasa (15/8).

Trump kemudian membela pembangunan data center yang menjadi fondasi bagi pengembangan AI. Menurutnya, fasilitas tersebut dapat menciptakan kekayaan bagi masyarakat dan negara bagian.

“Pusat-pusat data itu luar biasa, pusat-pusat data tersebut membuat orang menjadi kaya dan juga membuat negara bagian menjadi kaya,” ujarnya.

Trump bahkan menyamakan data center dengan sumber daya strategis bagi perekonomian AS. Menurutnya, data center merupakan minyak bumi untuk 20 hingga 25 tahun ke depan.

Dalam percakapan dengan Huang, Trump juga menyinggung pihak-pihak yang menentang pembangunan data center dan pengembangan AI. Menurut dia, mereka justru dapat bermain di tangan pihak yang ingin melihat AS gagal mempertahankan keunggulannya dalam teknologi AI.

“Mereka justru bermain sesuai keinginan banyak pihak yang tidak ingin hal itu terjadi,” kata Trump.

Trump kemudian menyebut kemungkinan adanya kepentingan politik maupun Cina di balik penolakan tersebut. “Itu bisa jadi orang-orang politik, dan juga China,” ujarnya.

Trump menegaskan AS tidak akan membiarkan kondisi tersebut menghambat pengembangan AI. Huang kemudian menyatakan persetujuannya.

“Anda benar. Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” kata Huang.

Trump Tepis Kekhawatiran Soal Keamanan AI

Pernyataan Trump tersebut muncul di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai keamanan AI. Sejumlah pemimpin perusahaan teknologi justru mendorong pengembangan AI yang lebih hati-hati, termasuk CEO Anthropic Dario Amodei.

Amodei mengusulkan agar pemerintah AS mewajibkan audit independen terhadap model AI paling canggih atau frontier AI. Seruan tersebut mendapat dukungan dari sejumlah pemimpin industri, termasuk CEO OpenAI Sam Altman dan Elon Musk.

Namun, Trump menilai kekhawatiran tersebut berlebihan. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyebut seruan untuk memperlambat pengembangan AI dan meningkatkan regulasi sebagai hoaks.

Trump juga mengatakan AS sudah memiliki mekanisme untuk mengawasi dan menindak perusahaan AI, sehingga tidak membutuhkan tambahan pengawasan seperti yang didorong sejumlah pelaku industri.

“Satu-satunya kendali atau mekanisme pengawasan yang dibutuhkan AI adalah presiden yang kuat dan cerdas (IQ tinggi), dan AS memiliki sosok itu secara luar biasa!” tulis Trump.

Trump juga menilai keraguan terhadap pengembangan AI dapat membuat Cina memperoleh keuntungan dalam persaingan teknologi dengan AS.

Di tengah perdebatan tersebut, Huang mengatakan perusahaan AI sebenarnya memiliki pilihan untuk memperlambat pengembangan teknologi tanpa harus menunggu pemerintah membuat aturan.

“Ada banyak hal yang bisa dilakukan, seperti menunda atau mengatur kecepatan pengembangan. Itu semua adalah langkah sukarela yang bisa mereka ambil jika merasa perusahaan mereka sudah tidak terkendali,” ujar Huang, dikutip dari Reuters, Selasa (15/9).

Huang menolak kekhawatiran bahwa perkembangan AI harus dihentikan karena potensi risiko ekstrem. Ia menilai perusahaan dapat mengambil langkah keselamatan secara sukarela sembari tetap mempertahankan pengembangan teknologi.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance juga mempertanyakan permintaan sejumlah perusahaan AI agar pemerintah mengatur industri tersebut. “Saya merasa agak aneh dengan fakta bahwa begitu banyak perusahaan teknologi AI terdepan (yang mendatangi pemerintah dan memohon agar pemerintah mengatur mereka,” ujar Vance.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan Trump diperkirakan bertemu dengan para eksekutif perusahaan AI dalam waktu dekat. Pertemuan tersebut akan membahas tanggung jawab perusahaan dalam menjaga keamanan AI serta kemungkinan peran pemerintah dalam pengawasan industri.

Peringatan Serangan Siber AI

Kekhawatiran mengenai keamanan AI juga bukan hanya berasal dari perdebatan soal kemungkinan AI kehilangan kendali. Sejumlah perusahaan teknologi dan keamanan siber telah memperingatkan bahwa AI dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan serangan siber.

OpenAI bersama lebih dari 100 perusahaan teknologi dan keamanan siber memperingatkan serangan siber berbasis kecerdasan buatan (AI) akan semakin meluas dan canggih dalam beberapa bulan ke depan. Mereka menilai dunia memiliki waktu terbatas untuk memperkuat pertahanan sebelum kemampuan AI semakin banyak dimanfaatkan untuk menyerang.

“Kita memiliki waktu yang terbatas untuk memperkuat pertahanan siber,” demikian tertulis dalam surat terbuka bertajuk A Call for Collective Action on Cyber Defense yang dipublikasikan di situs resmi OpenAI.

Surat itu ditandatangani oleh ratusan organisasi dari sektor teknologi, keamanan siber, keuangan, telekomunikasi, hingga infrastruktur, termasuk Google, Microsoft, Amazon Web Services (AWS), Anthropic, Cisco, Cloudflare, CrowdStrike, Nokia, Visa, Mastercard, Oracle, Palo Alto Networks, hingga OpenAI.

Jendela waktu yang terbatas disebut tersedia untuk memperkuat pertahanan siber. OpenAI dan para penandatangan memperkirakan dalam beberapa bulan mendatang serangan siber yang didukung AI akan menjadi jauh lebih luas dan canggih seiring kemampuan model AI di berbagai negara terus berkembang.

Mereka juga memperingatkan bahwa ancaman tersebut tidak hanya menyasar perusahaan teknologi. Layanan yang menjadi tumpuan masyarakat, mulai dari rumah sakit, fasilitas pengolahan air, hingga infrastruktur yang menopang internet, juga berada dalam Risiko.

Peringatan OpenAI tersebut sejalan dengan kekhawatiran Bill Gates mengenai perkembangan AI. Dalam tulisan di Gates Notes bertajuk The Turbulent AI Era is Here, Gates mengatakan kemampuan AI mulai digunakan untuk serangan siber.

“Para ahli keamanan siber paling cerdas yang saya kenal merasa khawatir akan situasi beberapa tahun ke depan, karena pihak penyerang memperoleh kemampuan baru yang ampuh lebih cepat daripada kemampuan pihak pertahanan dalam memperbaiki segala celah kerentanan,” tulis Gates.

Gates menilai persoalan tersebut muncul karena AI dapat digunakan di dua sisi. Model yang sama yang dapat membantu perusahaan menemukan kelemahan perangkat lunak untuk kemudian diperbaiki juga dapat membantu pelaku kejahatan mengeksploitasi kelemahan tersebut.

Selain itu, Gates menyatakan sumber daya yang diperlukan untuk melakukan serangan juga disebut semakin rendah. Saat ini banyak pihak belum mampu memisahkan kemampuan tersebut dari penggunaan yang bersifat wajar atau tidak berbahaya.

Gates bahkan memperingatkan bahwa pelaku dengan kemampuan terbatas dapat menggunakan AI untuk menargetkan individu, perusahaan, hingga pemerintah. Perlombaan tersebut membuat persoalan keamanan siber menjadi semakin mendesak.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Rahayu Subekti