Perusahaan semikonduktor dan perangkat lunak asal Inggris, Arm Holdings, menyoroti pentingnya efisiensi energi dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan ini juga bekerja sama dengan Indonesia untuk mendukung pengembangan ekosistem semikonduktor, termasuk melalui pelatihan talenta desain cip.
Wakil Presiden Arm Holdings Gary Lu mengatakan, AI membutuhkan energi dalam jumlah besar. Oleh karena itu, efisiensi daya menjadi salah satu faktor penting untuk menekan biaya dan meningkatkan performa teknologi.
“AI memerlukan banyak energi. Menghemat energi berarti mengurangi biaya. Peningkatan performa yang dihasilkan dengan penggunaan daya tertentu mencerminkan efisiensi,” kata Gary dalam salah satu sesi Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Senin (26/10).
Menurut Gary, konsumsi energi menjadi tantangan dalam pengembangan pusat data. Sementara itu, perangkat seperti ponsel dan laptop memiliki keterbatasan daya tahan baterai. Pada kendaraan, keterbatasan daya dan panas atau thermal juga menjadi hal yang perlu diperhitungkan.
Oleh karena itu, efisiensi daya menjadi salah satu dari lima pilar penting dalam membangun sovereign AI. Empat pilar lainnya yakni ekosistem kolaboratif yang luas, pemilihan mitra dan fleksibilitas, fondasi komputasi yang terjamin, serta komputasi yang dapat ditingkatkan skalanya.
Sovereign AI merupakan kemampuan suatu negara untuk menciptakan, menerapkan, dan mengatur AI sesuai dengan prioritas nasionalnya.
Menurut data Center for a New American Security (CNAS), terdapat 184 proyek sovereign AI di 67 negara hingga paruh pertama 2026. Sebanyak 117 proyek atau 59% di antaranya merupakan proyek infrastruktur, seperti pusat data dan superkomputer.
Selain itu, terdapat 63 proyek pengembangan model fondasi dan 18 proyek yang berkaitan dengan data.
Gary mengatakan, proyek-proyek sovereign AI tersebut turut membentuk ulang daya saing antarnegara. Per Juni 2026, Uni Emirat Arab menjadi negara dengan investasi terbesar untuk proyek sovereign AI, yakni US$ 33,5 miliar. Jepang menempati posisi berikutnya dengan investasi US$ 20,4 miliar.
Arm Holdings juga menerapkan prinsip efisiensi daya dalam pengembangan ekosistem komputasinya, mulai dari pusat data dan perangkat edge computing hingga physical AI, seperti kendaraan dan robot.
Arm Holdings Siapkan Ahli Desain Cip Indonesia
Arm Holdings dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) dilaporkan menjalin kolaborasi strategis pada Februari 2026. Kerja sama ini berkaitan dengan upaya meningkatkan kemandirian dan penguasaan teknologi semikonduktor Indonesia, khususnya di bidang desain cip.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa Indonesia berencana mengembangkan enam desain cip nasional. Pengembangannya difokuskan pada kekayaan intelektual strategis, mencakup teknologi otomotif, internet of things (IoT), pusat data, peralatan rumah tangga, kendaraan otonom, hingga komputasi kuantum.
Untuk mendukung rencana tersebut, Arm Holdings sepakat melatih hingga 15.000 talenta desain cip Indonesia.
Arm Holdings dilaporkan menguasai 96% teknologi cip untuk sektor otomotif global serta 94% desain chip untuk pusat data dan AI.
Gary mengatakan, kolaborasi dengan Indonesia tidak hanya bertujuan membawa teknologi Arm ke dalam negeri, tetapi juga membantu dalam membangun ekosistem AI yang siap menghadapi perkembangan teknologi berikutnya.
“Tujuan kami tidak hanya untuk membawa teknologi kami ke Indonesia. Tetapi untuk membantu Indonesia membangun ekosistem AI, yang bahkan siap untuk era agentic AI,” kata Gary.