Bukan Sinkhole, Ini Penjelasan BRIN Soal Lubang Besar di Aceh Tengah

Anadolu via Reuters Connect/Risky Cahyadi
Pemandangan udara dari lubang raksasa seluas lebih dari 30.000 meter persegi dan kedalaman 100 meter yang terbentuk akibat amblesan tanah di jalan utama Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Provinsi Aceh, Indonesia, pada 17 Februari 2026.
18/2/2026, 14.05 WIB

Jalanan dan area pertanian warga di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah berubah menjadi lembah dengan kedalaman sekitar 100 meter. Lubang tersebut diperkirakan akan terus memanjang terutama saat musim hujan, sehingga dikhawatirkan mencapai permukiman. 

Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional Adrin Tohari mengatakan, lubang tersebut bukan berupa sinkhole, melainkan tanah endapan material gunung api atau tufa yang longsor dipicu gempa bumi. 

Bukan terbentuk baru-baru ini, longsoran terbentuk sejak gempa bumi melanda kawasan tersebut pada 2013 silam. 

“Akibat goncangan gempa tahun 2013, karena kondisi tanahnya tidak padat, seiring dengan waktu ada hujan, lama-lama longsoran itu membesar dan maju,” kata Adrin kepada Katadata, pada Rabu (18/2). 

Longsoran tersebut kemudian membentuk gawir atau tebing vertikal yang sangat curam. Selain tanah yang rapuh, tebing itu rentan rontok saat diterpa air hujan. “Rontok ini enggak berhenti, karena memang rapuh sekali,” ucapnya. 

Aliran air di dasar tebing juga membuat ‘kaki’ gawir menjadi rapuh dan mudah rontok. Pergerakan runtuhan baru diperkirakan akan melambat ketika musim kemarau, sebab aliran air di permukaan ikut menipis. Bukan berhenti total, rontokan tanah itu hanya akan melambat.

Oleh sebab itu, Adrin menyarankan segala aktivitas di sekitar wilayah itu harus dihentikan mengingat risiko lubang itu yang akan terus memanjang. Jika mulai menyentuh pemukiman, warga disarankan segera direlokasi. 

Beberapa Cara Tahan Runtuhan Tanah

Untuk menahan laju runtuhan, dapat dilakukan metode grouting untuk membantu menstabilkan lereng. Namun, metode ini baru bisa dilakukan ketika musim kemarau, karena sulit dilakukan saat musim hujan. 

Semen disuntikkan ke tanah melalui metode grouting, kemudian akan menjadi padat dan menambah kekuatan tanah. “Ketika tanah sudah padat, baru diamankan menggunakan dinding penahan,” ucap Adrin. 

Penerapan metode tersebut harus dilakukan dengan cermat, menentukan di mana titik yang tepat untuk diinjeksi, lalu seberapa cepat material akan mengikat tanah, sehingga efektivitasnya harus dievaluasi.

“Jadi ketika sudah di-grouting, nanti harus dibor, diambil sampelnya, apakah tanah itu sudah berubah atau tidak terhadap kekuatannya.”

Selain itu, aliran air tanah juga perlu dikontrol dengan metode pumping. Dengan begitu, tidak mengganggu kekuatan tanah yang telah dibentuk. Air tanah akan disedot menggunakan pompa, agar selalu berada di bawah bidang lincir atau lapisan tanah yang labil. Saat musim hujan, air tidak memengaruhi kestabilan lereng. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas