Miliki Data Center Terbanyak di Dunia, AS Dibayangi Risiko Panas Ekstrem

Katadata/Hari Widowati/Chatgpt
Ilustrasi data center dan panas yang dihasilkan.
31/3/2026, 15.24 WIB

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) memacu berbagai negara untuk membangun infrastruktur utamanya berupa pusat data atau data center. Namun, riset terbaru menunjukkan keberadaan pusat data dapat meningkatkan suhu daratan di sekitarnya. Amerika Serikat (AS) sebagai negara yang memiliki pusat data terbanyak di dunia, berada di bawah ancaman peningkatan suhu ekstrem ini. 

Aplikasi AI membutuhkan latensi rendah sehingga pusat datanya seringkali dibangun di area yang dekat dengan pengguna. Penetrasi AI juga lebih banyak di negara-negara maju, sehingga keberadaan pusat data cenderung mengikutinya. Informasi yang dikumpulkan Data Center Map menunjukkan, Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang paling banyak memiliki pusat data AI.

Data yang diperbarui pada Maret 2026 itu memperlihatkan, jumlah pusat data di AS mencapai 4.088 unit. Jumlah ini bahkan delapan kali lebih besar dibandingkan jumlah pusat data di negara kedua, yaitu Jerman, sebanyak 507 unit. 

Selain kedua negara itu, pusat data AI juga banyak ditemui di Britania Raya sebanyak 506 unit, Cina 369 unit, Prancis 346 unit, Kanada 286 unit, dan India 278 unit. Sementara, di Indonesia sudah mencapai 185 unit. Dalam daftar itu, Indonesia menempati peringkat ke-14. 

Kerja Pusat Data Tingkatkan Suhu Lingkungan Sekitarnya

Fasilitas jantung AI itu membutuhkan banyak energi untuk beroperasi. Menurut International Energy Agency (IEA), konsumsi listrik global untuk operasional pusat data bisa mencapai 1.000 terawatt-jam per tahun pada 2026. Sumber energi fasilitas ini pun masih didominasi oleh energi fosil.

Tak hanya itu, masalah berikutnya kemudian muncul. Penelitian bertajuk “The Data Heat Island Effect: Quantifying the Impact of AI Data Centers in a Warming World” mengungkap, operasional pusat data AI dapat meningkatkan suhu daratan di sekitarnya hingga 16 derajat Fahrenheit atau 0,5 derajat Celsius. 

Ditopang dengan energi listrik, pemrosesan ribuan server dalam pusat data dapat menghasilkan panas. Kemudian, panas ini dapat terbuang ke lingkungan sehingga turut meningkatkan suhu lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan hasil penelitian, suhu permukaan dapat meningkat dengan rata-rata 3,6 derajat Fahrenheit setelah pusat data mulai beroperasi. Suhu permukaan bahkan bisa meningkat hingga 16,4 derajat Fahrenheit dalam kasus ekstrem.

Di Baijo, Meksiko - yang menjadi pusat pembangunan data center - terdapat kenaikan suhu yang tidak dapat dijelaskan sebesar 3,6 derajat Fahrenheit selama 20 tahun terakhir. Hal serupa terjadi di Aragon, Spanyol yang merupakan pusat data kecerdasan buatan terbesar di Eropa. Wilayah tersebut mencatat kenaikan suhu 3,6 derajat Fahrenheit yang tidak terjadi di provinsi-provinsi sekitarnya. 

Masalah lainnya, dampak peningkatan suhu akibat aktivitas pusat data ini tidak hanya memengaruhi lingkungan sekitar fasilitas. Penelitian tersebut mengungkap, peningkatan suhu dapat memengaruhi area 6,2 mil atau 9,98 km jauhnya dan berdampak pada 340 juta orang. 

Tidak hanya di kedua pusat data tersebut, kenaikan suhu permukaan ini konsisten terjadi di seluruh dunia. Artinya, AS maupun negara-negara lainnya juga dapat mengalami kondisi serupa.

Sebagai informasi, para peneliti mengamati data suhu selama 20 tahun terakhir menggunakan sensor jarak jauh dan memetakannya terhadap lokasi hyperscaler kecerdasan buatan, pusat data yang dapat membentang lebih dari satu juta kaki persegi dan menampung ribuan server. 

Penelitian fokus pada 6.000 pusat data yang terletak jauh dari perkotaan padat penduduk. Lokasi ini dipilih karena suhu permukaan di sekitarnya cenderung tidak dipengaruhi faktor lain seperti kegiatan manufaktur atau aktivitas rumah tangga.

Dampak musiman, tren pemanasan global, serta pengaruh lainnya juga ditepikan untuk mendapatkan data pemanasan akibat aktivitas pusat data.

Meski begitu, selain dampak panas ini, peneliti senior Borderstep Institute for Innovation and Sustainability Ralph Hintemann menilai dampak terbesar pusat data bagi perubahan iklim adalah emisi dari pembangkit listriknya.

"Sejauh menyangkut perubahan iklim, emisi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik untuk pusat data tetap menjadi aspek yang paling mengkhawatirkan," ucap Ralph.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas