Lonjakan Populasi Tikus dan Fenomena Gunung Es Hantavirus RI
Tahun lalu, tim peneliti dari Richmond University Amerika Serikat merilis hasil penelitian tentang tren populasi tikus. Para peneliti menggunakan data pengaduan publik dan hasil inspeksi dari 16 kota di berbagai belahan dunia, Jakarta tidak termasuk.
Tapi, penelitian ini mencatatkan beberapa temuan penting. “Kota-kota yang mengalami kenaikan suhu lebih besar dari waktu ke waktu cenderung mencatat lonjakan populasi tikus yang lebih tinggi,” demikian tertulis.
Tren serupa juga terlihat di kota dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan tingkat urbanisasi yang lebih intensif.
Peningkatan suhu diduga memperpanjang periode musiman ketika tikus aktif mencari makan di permukaan dan berkembang biak. Kondisi ini dapat mendorong pertumbuhan populasi tikus.
Di sisi lain, pertumbuhan jumlah penduduk dan urbanisasi juga berpotensi meningkatkan volume sampah makanan yang menjadi sumber pakan tikus, sekaligus menyediakan lebih banyak celah, saluran, dan struktur bangunan yang dapat dimanfaatkan sebagai habitat.
Temuan ini mengukuhkan ramalan lama para peneliti soal potensi lonjakan populasi tikus dan penyakit terkait, seiring pemanasan suhu bumi.
Dugaan Fenomena Gunung Es Hantavirus di RI
Salah satu penyakit yang berasal dari tikus yang tengah diwaspadai adalah hantavirus. Ramai dibicarakan seiring wabahnya di Amerika Latin, virus ini sebenarnya sudah lama ditemukan di Indonesia dan diduga kasusnya lebih banyak dari yang tercatat.
Masalahnya, banyak kasus diduga salah diagnosis atau bahkan tidak terdeteksi sama sekali. Penyebabnya, gejala awalnya mirip dengan penyakit lain seperti demam berdarah, tifoid, atau leptospirosis.
Merujuk pada artikel berjudul Hantavirus: Virus dari Tikus yang Mematikan, Siapkah Indonesia Menghadapinya? yang dirilis Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen.
Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis. “Fenomena ini dikenal sebagai “iceberg phenomenon”, yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara kasus sebenarnya jauh lebih besar di bawah permukaan," demikian tertulis.
Infeksi hantavirus bisa menyebabkan dua kondisi berbahaya.
Pertama, Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang banyak ditemukan di Asia dan Eropa. Penyakit ini menyerang ginjal dan pembuluh darah dengan gejala demam, perdarahan, hingga gagal ginjal.
Kedua, Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yang lebih sering ditemukan di Amerika. Sindrom ini menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan sesak napas akut hingga gagal napas.
Tingkat keparahan atau Case fatality rate (CFR) akibat infeksi hantavirus tergolong tinggi, bahkan dapat mencapai 50 persen pada beberapa tipe virus.
Di Indonesia, hantavirus yang paling sering ditemukan adalah Seoul virus (SEOV), yang ditularkan melalui tikus rumah, yakni Rattus rattus dan Rattus norvegicus.
“Karena tikus jenis ini hidup sangat dekat dengan manusia, risiko penularan menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan penyakit zoonotik lain yang terbatas pada hutan atau satwa liar,” demikian tertulis.
Dengan perubahan iklim dan urbanisasi, risiko hantavirus berpotensi meningkat.
Dengan bukti ilmiah yang semakin menguat bahwa virus telah beredar di Indonesia, reservoirnya (pembawanya: tikus) melimpah, sedangkan kapasitas diagnosis masih terbatas dan risiko kesehatannya tinggi, hantavirus dinilai tak layak disepelekan.
“Jika Indonesia tidak mulai memperkuat surveilans, diagnosis, dan pengendalian berbasis lingkungan, maka hantavirus berpotensi menjadi kejutan epidemiologis berikutnya, datang tanpa disadari, tetapi berdampak besar,” demikian tertulis.