Sumatra Kembali Memanas, Karhutla Parah 2019 Bakal Terulang?

ANTARA FOTO/Rony Muharrman
Satgas Karhutla Riau terus berjibaku memadamkan api yang membakar lahan gambut di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Minggu (22/9/2019).
3/6/2026, 08.24 WIB

Sejumlah wilayah di Sumatra kembali dikepung api. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tercatat sudah muncul di Riau, Sumatera Selatan, dan juga Aceh saat memasuki musim kemarau tahun ini. 

Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan risiko karhutla di Sumatra meningkat seiring memasuki musim kemarau pada Juni ini. Prakiraan itu pun dibenarkan Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto.

“Sejak Iduladha, kami sudah melaksanakan pemadaman di Riau, sampai saat ini tim masih bekerja di TKP Kandis, Sokoi, dan Rantau Bais,” ujar Ferdian saat dihubungi Katadata pada Selasa (2/6).

Ketiga lokasi berada di Provinsi Riau. Selain itu, hasil patroli udara menunjukkan kemunculan titik api di Kecamatan Rupat, Kabupaten Bengkalis, Riau. Karhutla juga menghanguskan sejumlah titik di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kabupaten Ogan Ilir, dan Kabupaten Muara Enim di Sumatera Selatan. 

“Dikarenakan beberapa hari tidak hujan dan kondisi suhu harian yang lumayan panas, sekitar 33-34 derajat Celsius, muncul banyak hotspot,” ujar Ferdian. 

Dia kemudian menambahkan, satu regu Manggala Agni juga telah diberangkatkan untuk memadamkan karhutla di Nagan Raya, Aceh, pada Senin (1/6) malam. 

Berdasarkan analisis citra satelit, luas karhutla di Sumatra periode Januari hingga April 2026 hampir menyamai luas area karhutla pada 2019 lalu. Luas karhutla di Sumatra pada Januari-April 2019 tercatat mencapai 29.342,04 hektare. Sementara, luas karhutla di Sumatra pada Januari-April 2026 mencapai 27.908,84 hektare. 

Jika pada 2019 karhutla terkonsentrasi di Riau, kemudian disusul Kepulauan Riau, Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan, kini karhutla terjadi di seluruh provinsi di pulau ini. Termasuk di Bengkulu, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung. ‘Pemerataan’ ini sudah terjadi setidaknya sejak 2021 lalu. 

“Ada potensi mirip-mirip ke 2019, dengan kondisi El Nino juga,” kata Ferdian. Prediksi BMKG, fenomena iklim El Nino diperkirakan menguat dari level lemah ke moderat pada semester II tahun ini. 

BMKG juga mencatat, musim kemarau pada 2019 lebih kering dari musim kemarau pada 2018 dan acuan normal klimatologis pada 1981-2010. Kondisi itu memicu kekeringan di sektor pertanian, sumber daya air, hingga kehutanan dan lingkungan akibat El Nino pada September 2018 hingga Juli 2019. 

El Nino diikuti dengan fenomena anomali suhu muka laut di Samudra Hindia, dimana suhu muka laut di timur Afrika lebih hangat dibandingkan suhu muka laut di barat daya Sumatra. Kondisi ini dikenal dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) plus. IOD+ tercatat menguat pada April hingga Desember 2019. 

Kedua fenomena iklim itu membuat musim kemarau pada 2019 bertambah panjang dan kuat. Musim hujan terlambat datang kala itu. Sebanyak 46 persen dari 342 zona musim di Indonesia mengalami musim kemarau sama hingga lebih panjang enam dasarian (2 bulan) dari normalnya. 

Kekeringan pada 2019 pun memicu buruknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Menurut catatan SiPongi–Sistem Pemantauan Karhutla Kementerian Kehutanan–total hutan dan lahan di seluruh Indonesia yang hangus saat itu mencapai sekitar 1,65 juta hektare. 

Sepanjang karhutla pada periode Agustus-Oktober 2019, BMKG mencatat konsentrasi debu polutan berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) di Sumatra berada di level tinggi. Bahkan pada September 2019, konsentrasi PM10 di seluruh Sumatra tercatat melebihi ambang batas 150 µg/m3.

Insiden ini 'masih lebih baik' dibandingkan karhutla pada 2015 lalu, saat El Nino berada di level kuat. Data SiPongi menunjukkan, karhutla kala itu menghanguskan 2,6 juta hektare di berbagai titik di Indonesia. 

Kendati demikian, menurut Ferdian, karhutla yang terjadi di sejumlah titik di Sumatra kali ini tidak hanya difaktori oleh kondisi cuaca kering. Pembukaan lahan dengan cara membakar vegetasi juga menjadi pemicunya. 

“Penyiapan lahan atau kebun dengan membakar masih menjadi kejadian pemicu kebakaran yang kami temui di lapangan, baik di Riau maupun di Sumatera Selatan,” kata dia. 

Dia bersama tim pun terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menghindari tindakan-tindakan yang memicu kebakaran. Namun, upaya mengubah perilaku itu membutuhkan intensitas dan waktu yang panjang. 

Bersamaan dengan itu, patroli darat dan udara terus dilakukan untuk deteksi, ditambah operasi modifikasi cuaca dan respon cepat saat terjadi karhutla. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas