Kisah Miswanto: Satpam yang Keliling Jemput Sampah, Kini Raih Kalpataru 2026

Ajeng Dwita Ayuningtyas I Katadata
Miswanto, penggerak pengolahan sampah di Kabupaten Bintan, usai menerima penghargaan Kalpataru Adya 2026, kategori Pembina Lingkungan.
16/6/2026, 21.08 WIB

Berakhirnya pandemi Covid-19 menjadi babak baru bagi hidup Miswanto. Kesehariannya dipadatkan dengan berkeliling untuk menjemput sampah, di samping rutinitas utamanya sebagai satpam. 

Kegiatannya menggerakkan pengelolaan sampah di Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, ini berbuah manis. Dia menjadi penerima penghargaan Kalpataru Adya 2026 dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kategori Pembina Lingkungan.

Perjalanan ini dimulai pada 2021. Miswanto bersama tim Penyuluh Sosial Masyarakat (Pensosmas) membentuk beragam program pengelolaan sampah, sembari melakukan edukasi masyarakat. 

“Kami sebut Gebermas, Gerakan Edukasi bersama Masyarakat,” ujar Miswanto, saat ditemui usai menghadiri acara penganugerahan Kalpataru 2026 di Jakarta, pada Kamis (11/6).

Dia bersama tim membangun program bank sampah ‘Rumah Pilah’ di Kecamatan Bintan Utara, Kabupaten Bintan, yang sampai kini telah berhasil mengelola 140 ton sampah anorganik. 

Sampah-sampah itu diperoleh dari sekitar 800 kepala keluarga nasabah bank sampah, yang berasal dari Kecamatan Bintan Utara, Seri Kuala Lobam, dan Teluk Sebong. Sampah yang masih bisa diolah akan dijadikan barang bernilai tambah, sedangkan sisanya disalurkan ke industri daur ulang. 

Keuntungan yang diperoleh dari mengelola dan menjual sampah itu sebagian digunakan untuk operasional bank sampah di kecamatan dan desa/kelurahan. Sedangkan sebagian lainnya, untuk program tabungan, seperti tabungan anak-anak, tabungan anak sekolah, tabungan hari raya, hingga tabungan emas.  

“Tidak mengotori lingkungan dan menjadi tambahan ekonomi masyarakat,” ucapnya. 

Agar lebih banyak menjangkau masyarakat, Miswanto bersama tim juga membentuk program ‘Donasi Sampah Indonesia untuk Menjaga Alam Semesta’. Dia mengatakan, program ini khusus menyasar masyarakat yang belum berkenan menjadi nasabah bank sampah. 

“Kami sentuh dengan mengajaknya mendonasikan atau sedekahkan sampahnya,” kata dia.

Program sedekah ini baru dimulai pada 2024. Meski begitu, sebanyak dua ton sampah berhasil dikelola dan menghasilkan kurang lebih Rp1,7 juta. Hasilnya sudah disalurkan ke pondok pesantren, rumah yatim piatu, dan lokasi lainnya.

Untuk memudahkan masyarakat, dia membuka layanan Bintan Ojek Sampah alias BOS. Ini adalah layanan gratis untuk menjemput sampah di rumah masyarakat dan fasilitas umum seperti rumah ibadah.

Eks-Pimpinan Kecamatan Pemuda Pancasila 

Sudah 23 tahun berseragam satpam, Miswanto mengaku senang berorganisasi sejak kecil. Keputusannya terjun menjadi pegiat lingkungan diambil setelah selesai menjabat sebagai pimpinan Pemuda Pancasila di Kecamatan Bintan Utara.

Ini piala Kalpataru pertama yang diterima Miswanto, usai mencoba tiga kali mendaftarkan diri di ajang ini, tepatnya pada 2022, 2023 dan 2026. Selama itu, Miswanto menyiapkan inovasi yang bermanfaat dan lebih berdampak bagi masyarakat.

“Saya tidak bisa memberi uang, tapi saya ingin bantu. Jadi saya beri ilmu, bantu dengan program-program,” ujarnya. 

Usai didapuk sebagai peraih Kalpataru Adya, dia bertekad mengoptimalkan program saat ini sekaligus menciptakan inovasi-inovasi baru. Menurutnya, sebuah program tidak dibentuk hanya untuk menjadi juara atau meraih penghargaan.

“Tapi, kalau juara, pasti berdampak, kan?” ujarnya. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas