Jejakin Kembangkan Sensor Bioakustik, Pantau 11.000 Spesies Burung
Perusahaan teknologi iklim PT Jejak Enviro Teknologi atau Jejakin mengembangkan sensor bioakustik untuk memantau keanekaragaman hayati, khususnya spesies burung. Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan mengidentifikasi spesies burung berdasarkan suara yang terekam di lapangan.
Founder & CEO of Jejakin Arfan Arlanda mengatakan pengembangan sensor bioakustik dilakukan karena pengumpulan data keanekaragaman hayati melalui dokumentasi foto memiliki keterbatasan. Dalam praktiknya, tim di lapangan tidak selalu dapat melihat atau memotret satwa yang berada di kawasan hutan.
Melalui sensor tersebut, suara burung yang direkam di lapangan akan dikirimkan ke dashboard Jejakin. Data tersebut kemudian dapat digunakan untuk mengidentifikasi spesies burung sekaligus mengetahui status konservasinya, seperti apakah termasuk spesies dilindungi, terancam punah, atau memiliki status konservasi lainnya.
“Saat ini sudah terkumpul lebih dari 11 ribu spesies burung. Kami masih fokus untuk burung karena banyak sekali,” kata Arfan dalam sesi diskusi panel ‘Decarbonizing Business: Driving ESG Performance and Competitiveness’ Katadata SAFE 2026 di Jakarta, Kamis (17/9).
Jejakin Manfaatkan Citra Satelit hingga Drone
Pengembangan sensor bioakustik tersebut merupakan bagian dari upaya Jejakin mengintegrasikan teknologi dan pengumpulan data lapangan dalam proyek-proyek lingkungan. Selain sensor, Jejakin juga memanfaatkan citra satelit, drone, serta berbagai perangkat Internet of Things (IoT) yang dikembangkan secara internal.
Arfan mengatakan penggunaan teknologi tersebut bertujuan memastikan dampak dari proyek lingkungan dapat diukur secara lebih menyeluruh. Pengukuran tidak hanya mencakup serapan karbon, tetapi juga dampak proyek terhadap keanekaragaman hayati, masyarakat lokal, hingga keberlanjutan air.
“Mungkin itu salah satu upaya yang kami lakukan dengan menggunakan teknologi untuk memastikan bahwa setiap proyek itu berjalan dengan baik dan tidak greenwashing,” ujarnya.
Tak hanya suara burung, Jejakin juga memiliki teknologi untuk memantau terkait proyek penanaman pohon. Teknologi ini tak hanya memantau bagaimana serapan karbonnya namun juga memastikan bagaimana dampaknya terhadap lingkungan.
“Misalnya, dampaknya terhadap biodiversity seperti apa, dampaknya terhadap local community seperti apa. Jadi memang cukup banyak hal yang kami ukur untuk memastikan proyek-proyek yang berjalan ini memang punya dampak yang signifikan,” ucapnya.