Pusat Data dan Rencana Besar Desalinasi Air Laut di Batam
Pemerintah Kota Batam mendorong industri pusat data menggunakan air laut untuk memenuhi kebutuhan operasionalnya. Tujuannya, untuk mencegah krisis air baku karena pusat data membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar, terutama untuk sistem pendinginan server.
Saat ini, terdapat sekitar 10 rencana pengembangan pusat data di Batam. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto baru-baru ini menyebut Nvidia berencana berinvestasi sekitar US$4,5 miliar atau sekitar Rp80 triliun di Batam untuk pengembangan pusat data.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mengatakan kebutuhan air untuk operasional pusat data harus dipenuhi dari sumber yang tidak mengurangi pasokan air waduk yang selama ini diperuntukkan bagi masyarakat.
Karena itu, pengembang pusat data didorong membangun sumber air mandiri menggunakan teknologi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) atau desalinasi air laut.
“Untuk industri yang membutuhkan air dalam jumlah besar, kami mendorong agar dapat memenuhi kebutuhannya melalui sumber air mandiri dengan teknologi SWRO,” kata Amsakar, seperti dikutip dari siaran pers Pemerintah Kota Batam, Jumat (25/9).
Sejauh ini, satu pengembang pusat data, DayOne, telah menyanggupi pembangunan SWRO di Kabil Integrated Industrial Estate. Amsakar mengatakan bahwa perusahaan itu akan membangun instalasi SWRO dengan nilai investasi sekitar Rp180 miliar. Fasilitas tersebut nantinya akan diserahkan kepada BP Batam untuk dikelola.
Pengembang pusat data lainnya, PT Equator Gate System Batam (EGSB), juga mulai menyiapkan rencana pembangunan SWRO untuk memenuhi kebutuhan air fasilitas pusat data di kawasan Teluk Mata Ikan, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa.
Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, Pemerintah Kota Batam mengestimasi kapasitas produksi air dari SWRO mencapai sekitar 750 liter per detik pada tahap awal. Kapasitas tersebut ditargetkan meningkat menjadi sekitar 1.000 liter per detik atau sekitar 86,4 juta liter per hari.
Dengan kapasitas ini, air waduk dapat lebih difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sedangkan kebutuhan industri pusat data dipenuhi dari air laut yang diolah menjadi air tawar.
Dalam jangka panjang, Amsakar mengatakan kelebihan produksi SWRO dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan masyarakat, selama kapasitas fasilitas, kualitas air hasil pengolahan, dan jaringan distribusinya memungkinkan.
“Kami tentu tidak hanya berpikir bagaimana kebutuhan industri terpenuhi. Lebih dari itu, kalau kapasitas dan infrastrukturnya memungkinkan, hasil pengolahan air ini juga dapat membuka peluang untuk mendukung kebutuhan masyarakat,” kata dia seperti dikutip Antara, pekan lalu.
Belajar dari Singapura
Selain listrik, kebutuhan air menjadi salah satu tantangan operasional pusat data. Dengan sumber air tawar yang terbatas, Singapura sebagai salah satu hub pusat data di Asia Tenggara memanfaatkan beragam sumber air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.
Negara itu kini memiliki lebih dari 70 pusat data. Pemerintah Singapura menyebut sebagian besar air yang dipasok ke pusat data berasal dari air daur ulang NEWater, bukan sumber air tawar.
“Sebagian besar pasokan air ke pusat data dipenuhi dengan NEWater, bukan dari air segar atau freshwater,” demikian jawaban tertulis Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura atas pertanyaan parlemen, baru-baru ini.
NEWater adalah air daur ulang yang melalui beberapa tahap pemurnian, termasuk mikrofiltrasi dan reverse osmosis. Air ini terutama digunakan untuk kebutuhan industri dan pendinginan, disalurkan kepada pelanggan melalui jaringan pipa khusus.
Menurut informasi dari Public Utilities Board (PUB), badan yang mengelola air Singapura, kebutuhan air negara itu pada 2023 mencapai sekitar 440 juta galon atau 1,67 miliar liter per hari. Jumlah tersebut setara dengan kebutuhan untuk mengisi sekitar 800 kolam renang berukuran olimpik.
Kebutuhan air Singapura diperkirakan bisa mencapai hampir dua kali lipat angka tersebut pada 2065, atau sekitar 3 miliar liter per hari. Sekitar 60 persennya untuk memenuhi kebutuhan sektor non-rumah tangga, termasuk industri pusat data.
Besarnya kebutuhan air pusat data tergambar dari data konsumsi air salah satu operatornya di Singapura. Keppel DC REIT mencatat fasilitas pusat datanya menggunakan 475,2 juta liter air sepanjang 2024. Sebanyak 363,5 juta liter atau sekitar 76,5 persen di antaranya merupakan NEWater.
Selain NEWater, Singapura memanfaatkan teknologi desalinasi. “Kedua sumber tersebut tahan perubahan cuaca sehingga dapat memperkuat ketahanan air di tengah perubahan iklim,” demikian pernyataan tertulis Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura.
Sejauh ini, terdapat empat fasilitas NEWater dan lima instalasi desalinasi yang beroperasi di Singapura. Pemerintah Singapura memproyeksikan NEWater dan desalinasi akan memenuhi sebagian besar kebutuhan air negara itu pada 2065.
Saat ini, Singapura memenuhi kebutuhan airnya melalui empat sumber utama, yakni air tangkapan lokal, air impor dari Johor, NEWater, dan air hasil desalinasi.